Rabu, 09 Maret 2011

Buah Nangka Ternyata Mengandung Banyak Zat Gizi

Buah Nangka Ternyata Mengandung Banyak Zat Gizi

Buah nangka merupakan salah satu buah yang umum tumbuh di daerah tropis. Selain Indonesia, negara penghasil buah nangka antara lain India, Thailand, dan Malaysia. Aromanya yang khas dan mudah melekat pada orang yang mendekatinya membuat buah ini kurang disukai. Akan tetapi, sebetulnya banyak zat gizi yang terkandung pada buah ini.
Buah nangka mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin B dalam bentuk senyawa thiamin, riboflavin, niacin,  serta mengandung mineral seperti calcium, potassium, ferrum (zat besi), magnesium, dalam jumlah yang cukup banyak bila dibandingkan dengan berbagai nutrien lain. Beberapa manfaat nangka antara lain:
1. Meningkatkan kesehatan saluran pencernaan
Nangka mampu membantu menyembuhkan borok lambung dan serat nangka sangat membantu mengatasi konstipasi (susah buang air besar). Dengan demikian, buah nangka mampu ikut membantu mencegah timbulnya kanker usus besar.
2. Memperkuat sistem imun
Buah nangka adalah sumber vitamin C yang sangat baik, sebagai antioksidan yag ampuh mencegah flu dan infeksi.
3. Proteksi terhadap kanker
Buah nangka mengandung fitonutrien seperti lignan, isoflavon, dan saponin yang membentuk proteksi tubuh melawan timbulnya kanker.
4. Menurunkan tekanan darah
Buah nangka mengandung potassium (kalium) yang penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dan eletrolit sehingga bermanfaat positif terhadap pengaturan tekanan darah, sehingga mengurangi resiko serangan jantung dan stroke.
5. Membantu kesehatan indra penglihatan
Kandungan vitamin A dalam buah nangka akan membantu menjaga kesehatan mata. Selain itu, vitamin ini juga penting untuj menjaga kesehatan kulit dan membran mukosa (contohnya pada hidung di bagian dalam) dan meningkatkan fungsi sistem imun.
5. Peningkatan energi
Buah nangka dapat dipertimbangkan sebagai makanan penambah energi karena adanya kandungan gula sederhana seperti fruktosa dan sukrosa. Daging buahnya yang empuk, manis, dan halus dapat segera membuat kita merasa segar kembali.
Buah nangka adalah buah terbesar yang dihasilkan dari pohon. Buah nangka ini bahkan sebetulnya dapat ditambahkan pada menu sarapan, sebagai potongan kecil-kecil yang ditaburkan pada oatmeal, sehingga dapat menjadi cadangan energi yang cukup untuk sepanjang hari.

Minggu, 27 Februari 2011

Kerangka Dasar APP 2011

Kerangka Dasar APP 2011
 
Pemberdayaan Kesejatian Hidup:
Kesejatian Hidup dalam Perwujudan Diri


Pengantar
Gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) dengan tema besar “Pemberdayaan Kesejatian Hidup” (2007 – 2011) telah menjadi bahan pembelajaran umat beriman katolik selama empat tahun. Buah hasil pembelajaran yang mulai tampak adalah, semangat pembaruan ke arah pemberdayaan hidup bersama dalam masyarakat, komunitas, keluarga, dan lingkungan hidup. Diharapkan bahwa pembelajaran bukan hanya menjadi medan pembekalan bagi orang lain tetapi terutama bagi diri sendiri.
Tahun 2011 melanjutkan tema “Pemberdayaan Kesejatian Hidup” dengan perhatian pada “Kesejatian dalam Perwujudan Diri”. Tujuannya adalah setiap umat Katolik sadar akan panggilannya, sebagai anak-anak Allah yang sejati dalam perjuangan hidup di dunia.
Hasil sasaran yang ingin dicapai oleh tema ini adalah:
1.    Meningkatnya kemampuan setiap umat beriman untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah kehidupan.
2.    Meningkatnya kemampuan setiap umat beriman untuk melibatkan diri dalam menata karya kesejahteraan hidup bersama sesama.
3.    Berkembangnya daya cipta setiap umat beriman dalam menjawab pelbagai keprihatinan yang menghambat perwujudan diri yang sejati.
4.    Meningkatnya kemampuan umat beriman dalam membangun kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan cita-cita dan harapan hidup bersama yaitu kesejahteraan bersama yang berwawasan lingkungan.
5.    Meningkatnya kemampuan setiap umat beriman untuk memberikan kesaksian dalam membangun relasi dengan sesama, terutama antar umat beriman, dan lingkungan hidup demi kebaikan seluruh ciptaan.
 
Latar belakang
Keluarga Allah atau persekutuan murid-murid Yesus mempunyai hubungan yang erat dan khusus dengan Allah Tritunggal Mahakudus: Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Hubungan ini merupakan anugerah Allah pada saat kita menerima Sakramen Permandian.
Melalui Sakramen Permandian setiap umat beriman diangkat menjadi anak angkat Allah, dalam persekutuan dengan seluruh Gereja dan makhluk ciptaan. Namun, hubungan khusus umat beriman mendapatkan tantangan yang besar dalam tatakelola kehidupan sekarang ini. Kehidupan yang berkembang mendapat tawaran pelbagai kebutuhan serta pencobaan yang mengurungnya dalam sikap ingat diri semata.
Sikap ingat diri ini memberikan nuansa terciptanya budaya mengasingkan yang membuat orang menjadi miskin, lemah dan berkekuarangan, tanpa peduli akan kesejahteraan bersama. Budaya ini menampilkan budaya yang berseberangan dengan budaya kasih yang benar.
Banyak tempat khusus seperti mal, perguruan tinggi, sekolah internasional, rumah sakit inter­na­sional, dsb., di mana orang hidup dalam keterasingan. Orang yang tidak mempunyai penghasilan atau berpenghasilan rendah tidak dapat merasakannya. Rasa keadilan dipertanyakan berhadapan dengan sikap ingat diri semata. Perwujudan diri dalam sikap ingat diri, menyingkirkan sesama, sehingga mereka tidak memperoleh kesempatan meningkatkan perubahan hidup dalam kesejatian. Budaya hanya ingat diri membuat keadaan sesama semakin memprihatinkan. Kesempatan memba­ngun kesejatian diri semakin terpuruk. Masyarakat semakin terperangkap oleh konsumtivisme, hedonisme, individualisme, dan egoisme yang menghasilkan tatakelola kehidupan yang keras, bah­kan kejam.
Tidak heran di dalam tata kehidupan masyarakat demikian muncul istilah “premanisme”. “Premanisme” ini bukan hanya berkembang di tataran kehidupan masyarakat warga, tetapi juga di tingkat para wakil rakyat, penegak hukum dan peradilan, serta birokrasi. Pembelajaran hidup masya­ra­kat demikian memunculkan pelbagai konflik sosial dan pribadi di pelbagai jenjang waktu dan tempat.
Dewasa ini orang mendapat suguhan pelbagai kasus yang tidak kunjung selesai. Kasus yang menimpa rakyat kecil seperti busung lapar, penyakit malaria, HIV/AIDS, TBC, kekurangan gizi, dsb belum mendapatkan perhatian yang benar dan tepat oleh mereka yang berwenang. Mereka sendiri sedang menghadapi pelbagai persoalan menyangkut kedudukan, kekuasaan, kepartaian, dan golong­an. Masing-masing orang duduk di kursi pengambil kebijakan tata kelola hidup bermasyara­kat, berbangsa dan bernegara lebih mengedepankan sikap “aji mumpung” daripada melaksanakan tugas utamanya: melayani, mendampingi, merencanakan dan memperjuangkan kesejatian hidup yang benar.
Orang beriman mendapat panggilan dan perutusan untuk mewujudkan diri sebagai sesama yang mampu berlaku baik dengan semua orang. Nyatanya, kesejatian hidup orang beriman belum sepenuhnya terwujud. Kedosaan manusia mengurung diri dalam keterasingan, sehingga keutuhan hidup yang terbuka tetap menjadi rahasia dalam persekutuan hidup bersama. Oleh karena itu, melalui permenungan APP 2011, kita kiranya rela memanfaatkannya untuk menyelisik “Bagaimana kita dapat menjadi manusia yang semakin siap mewujudkan diri, yaitu menata tata kehidupan diri yang mengarah pada kesejatian hidup dalam keutuhan hidup yang terbuka bagi kesejahteraan bersama.”
 
Mendengarkan Sabda Tuhan
Setiap orang yang terhimpun dalam keluarga Allah sebagai murid-murid Yesus mendapatkan pengajaran khusus dari Sang Guru Sejati yaitu Yesus Kristus. Pengajaran yang paling unggul mendapat peragaan dalam acara Perjamuan Akhir. Di dalam kisah perjamuan akhir diungkapkan “pembasuhan kaki”. Yesus melakukan pembasuhan kaki para murid-Nya. Yesus yang adalah Guru mau melakukannya. Perbuatan Yesus ini tidak steril karena mereka sebagai murid-murid-Nya harus melakukannya juga di antara mereka satu sama lain. Pembasuhan kaki merupakan simbol pelayanan yang sangat mendasar dan menyentuh tata kehidupan para murid. Tata kehidupan para murid yang diharapkan adalah adanya saling melayani, meneguhkan dan mengembangkan. Pelayanan satu sama lain memberikan nuansa baru dalam kehidupan bersama. Semangat hidup seperti ini merupakan ungkapan hidup iman setiap umat beriman. Rasul Yakobus mengungkapkan dengan tegas: “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja. Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati” ( Yak 1:22; Ibr 2:17 )
Inspirasi pembelajaran Kitab Suci mendorong setiap umat beriman dalam keterlibatan hidup sehari-hari agar berkenan pada Allah. Allah yang telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini memberikan diriNya melalui Yesus PuteraNya untuk menyelamatkan manusia dan seluruh alam ciptaanNya:“Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya diselamatkan melalui Dia,” (Yoh 3:16-17). Kasih Allah yang menganugerahkan hidup bagi umat beriman diharapkan berkelanjutan secara terbagi bersama sesama, sehingga perwujudan diri menjadi nyata dalam lingkungan hidup bersama yang penuh rahmat-Nya.
Dengan mengambil bagian dalam karya keselamatan, setiap umat beriman dipanggil untuk mewujudkan diri menurut Sabda Tuhan: “Akulah gembala yang baik. Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku, sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.Tetapi Aku juga mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini: domba-domba itu harus Ku-tuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dan satu gembala” (Yoh 10:11, 14 – 16). Gambaran tentang domba-domba adalah kawanan yang akan dibimbing ke padang rumput yang hijau (Yoh 10:9), mereka yang Ia kenal nama-namanya dan mereka mengenali suaraNya (Yoh 10:3-4,14). Domba-domba ini adalah mereka yang Ia maksudkan untuk dilindungi dari para pencuri dan perampok (Yoh 10:1,8,10). Mereka lah yang Ia kehendaki untuk dikumpulkan bersama-sama dengan semua yang lain sehingga menjadi satu kawanan, yang mendengarkan suaraNya (Yoh 10:16).Yesus akan melaksanakan ini karena Ia adalah Gembala Yang Baik (Yoh 10:11,14), yang dikasihi oleh BapaNya karena Ia mau menyerahkan nyawaNya bagi domba-dombaNya. Penyerahan nyawa ini merupakan tindakan pengorbanan diri yang total. Inilah contoh perwujudan diri yang sejati.
 
Pertobatan dan komitmen perubahan cara hidup
Upaya perwujudan diri setiap umat beriman dalam perutusan kesejatian hidup dengan semangat pengorbanan diri seutuhnya mengalami banyak tantangan dan pencobaan. Tantangan dan pencobaan seringkali membawa orang ke arah kecemasan, kekhawatiran dan keputus-asaan, sehingga membuat mereka takut bertindak. Umat beriman bersikap masa bodoh, karena imannya kerdil dan gersang.
Padahal tugas perutusan setiap orang membangun kehidupan diri yang terbuka dan terarah pada terciptanya keadilan, kebenaran, kedamaian, dan kebaikan Rahmat Allah yang menggerakan perutusan demi terciptanya kebaikan segala makhluk ciptaan berada dalam bejana tanah liat yang rapuh. Setiap saat umat beriman perlu membarui, memperbiki serta menyempurnakan diri, supaya dapat melakukan perutusan perwujudan diri dengan penuh tanggungjawab. Perbaikan dan penyempurnaan diri melalui pertobatan dan pembaruan pribadi. Pertobatan merupakan undangan sekaligus rahmat Allah. Ia menyampaikan pesan “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa: untuk menyelamatkan orang berdosa, (Mat 9:13; 1 Tim 1:15).”
Pertobatan pribadi dalam upaya perwujudan diri sebagai murid Kristus merupakan rahmat Allah demi penyempurnaan diri menuju pembenahan hidup bersama. Cara hidup umat beriman yang demikian sudah menjadi kenyataan dalam cara hidup Gereja Perdana: “Hendaklah kamu sehati sepikir. Dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan dirinya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati, (Fil 2:2-4; Ef 4:2; Lk 6:36).”
Keterlibatan dalam karya keselamatan bersama sebagai bagian utuh perwujudan kesejatian hidup diharapkan terlaksana dengan sepenuh hati, sehingga memberikan buah yang berkelimpahan dalam memperjuangkan kesejatian hidup pribadi yang terbuka bagi sesama. Hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna, (1 Ptr 1:22; Rom 12:9; 13:10; 1 Kor 13:2)
Kerelaan berbagi demi terciptanya pemberdayaan hidup bersama adalah wujud aktualisasi diri yang sejati. Kesejatian hidup yang terwujud harus berdasarkan kerelaan hati dan bukan karena paksaan dari luar. Pemberian diri dalam wujud pemberkatan, perhatian, dan pelayanan dalam kehidupan bersama akan semakin menciptakan kesejatian diri, yang terbuka untuk pembaruan diri dalam kebersamaan yang saling melayani dalam kasih (bkk. 2 Kor 9:7; Mat 6:3).
 
Perutusan untuk pembaharuan:
Pembelajaran diri umat beriman sebagai suatu proses kemampuan mewujudkan diri dalam membangun tata kelola kehidupan yang utuh terbuka memerlukan kesadaran akan pentingnya pengembangan diri sebagai murid Kristus. Pengembangan diri sebagai murid Kristus menuntut beberapa sikap dasar sebagai berikut:
1.      Membangun nurani kemuridan sejati: perutusan kemuridan menghadirkan nurani Kristiani, demi kesejahteraan hidup berdasarkan pola pikir Yesus Kristus. Perwujudan diri membuka kesempatan bagi tumbuhnya kesadaran akan segala sesuatu yang terkandung dalam panggilan kemuridan, yaitu peradaban kasih. Nurani Kristiani harus utuh dalam penghayatan iman dan sekaligus terbuka untuk menggerakkan pelayanan iman dan sekaligus terbuka untuk menggerak­kan pelayanan sesama yang saling memerdayakan.
2.      Belajar menghasilkan relasi sesama yang meluas: murid Kristus selalu sadar akan panggilan untuk mengalami relasi sesama yang baik dan meluas. Umat beriman sebagai persekutuan para murid Kristus hidup dan berkarya demi mekarnya hidup baru yang hadir di dunia karena kekuatan Roh Kudus. Karena itu setiap orang beriman harus berani meninggalkan cara hidup yang lama dan menuju cara hidup baru dengan mendayakan Roh Kudus yang telah diterimanya.
3.      Belajar berbagi dan bekerjasama: Perwujudan diri dalam tata kehidupan di atas bumi memang memerlukan perjuangan melalui kesadaran akan pengembangan diri. Umat beriman harus mau belajar hidup berbagi dan bekerjasama dengan sesama, agar kesejatian hidup diri terpantul juga dalam lingkungan hidup bersama.
4.      Belajar menggunakan pelbagai karunia dan peluang yang ada. Ada banyak anugerah Allah yang diberikan kepada setiap orang bersamaan dengan peluang yang disediakan Allah untuk mengembangkannya. Kesadaran akan keadaan karunia ini mendorong umat beriman secara terus menerus untuk menghasilkan cara dan kompetensi hidup yang bermakna dan bermanfaat bagi gerakan kesejatian hidup.
5.      Berbicara dan mendengarkan orang yang berpengalaman: Membangun persaudaraan dan persahabatan dengan sesama, terutama mereka yang berpengalaman dalam perwujudan diri sebagai murid Kristus akan memberikan nilai tambah untuk pengembangan diri. Sesama yang berpengalaman sudah mengalami jatuh dan bangun dalam menata kehidupan diri dan sesamanya. Belajar dari mereka berarti mengurangi kegagalan yang mereka alami dan sekaligus menumbuhkan harapan baru dalam mengembangkan diri menurut hati nurani yang membimbing kepada kesejatian hidup.
6.      Belajar membangun kehadiran yang unik: Setiap orang beriman adalah unik. Keunikannya perlu menjadi kisah tersendiri dalam hidupnya dan pada gilirannya mendorong peran ang menggem­bira­kan sesama dalam lingkungan hidup ini. Hasil kehadiran hidup dan kiranya akan memberi­kan pemerkayaan hidup sejahtera bersama.
7.      Tetap bersemangat dan gembira dalam menjalankan perutusan: Kepercayaan diri yang telah dibangun dengan karunia dan peluang yang tersedia dalam lingkungan hidup umat beriman akan menumbuhkan dinamika serta komunikasi iman yang tinggi. Menghayati kepercayaan yang penuh semangat sebagai murid Kristus menjadi tanda perwujudan diri dan dorongan untuk mengarus-utamakan peradaban kasih. Inilah disiplin kemuridan Kristus dalam membangkitkan diri untuk belajar terus menerus melalui pertobatan dan pembaruan diri. Inilah Injil Yesus Kristus yang menyelimuti perwujudan diri umat beriman dalam lingkungan hidup manusiawi terutama lingkungan hidup gerejawi.
 
Penutup
Pembaharuan diri dari setiap orang beriman menurut panggilan hidup sejati merupakan karunia iman yang berkesinambungan. Undangan Tuhan bagi pembaruan diri memang mengalami pelbagai tantangan bahkan ancaman. Namun inilah jalan yang tersedia untuk membangun persahabatan dengan tuhan dan sesama.
Yesus bersabda “Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan” dan Ia juga mengundang setiap orang datang belajar dari padaNya. Belajar untuk menjadi pewarta Kabar Gembira Injil dan sambil berbuat baik dari kota ke kota dan dari desa ke desa. Umat beriman Kristiani selalu bersyukur atas kelegaan yang Kristus selalu hadirkan karena bersama Dia perwujudan diri dapat terlaksana dalam kesejatian yang melimpah.
Perbuatan baik yang Ia lakukan ialah “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”, (Lk 4:18-19).
Pewartaan Kabar Gembira yang terungkap perwujudan diri Yesus ini menjadi teladan dan sekaligus dipercayakan kepada setiap orang sebagai murid-Nya untuk dilakukan. Ia mengatakan: “apa yang telah Kudengar dari BapaKu telah Kusampaikan dan Kuberikan kepadamu, maka pergilah ke seluruh dunia beritakanlah Injil dan sembuhkanlah mereka yang sakit…(bdk. Yoh 15:13-15; Mat 10:7, 27; Mark 16:15; Lk 9:60))”. Mandat Yesus ini hendaknya dijalankan dengan baik dan tekun seturut teladan-Nya. Ia tidak akan membiarkan para sahabatnya berjalan sendirian untuk mewujudkan diri sebagai murid-Nya. Ia akan mengirim teman seperjalanan yang berdaya yaitu Roh Kudus. Roh Kudus yang memberikan pendampingan dan pengarahan penuh daya agar hidup dan karya pelayanan umat beriman Kristiani mencapai dan terlaksana dalam suatu lingkungan yang semakin berdamai sejahtera bagi seluruh makhluk ciptaan Tuhan.
Dalam mewartakan Kabar Gembira Injil dan menghayatinya dengan perbuatan baik di dalam kekuatan Roh Kudus, setiap umat beriman selalu perlu belajar membangun relasi dengan diri sendiri, sesama, masyarakat dan lingkungan hidupnya menurut cita-cita Sang Pencipta. Pembela­jar­an ini membuka kemungkinan terciptanya lingkungan perwujudan diri yang mendatangkan kesejah­teraan sejati menuju keselamatan.
Bahan-bahan APP 2011 tersedia sebagai pembelajaran hidup yang kiranya mendorong umat beriman untuk mewujudkan pembaruan diri sebagai murid-murid Kristus. Terang Sabda Tuhan pasti membimbing untuk kembali kepada tata kehidupan yang sejatinya menyejahterakan, menggembira­kan serta membahagiakan para murid Kristus dalam lingkungan hidup yang terbangun dari hati umat beriman yang seutuhnya terbuka kepada Tuhan dan sesama. Inilah perwujudan diri dalam peradaban kasih.
Semoga demikian

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2011

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2011

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2011

"MARI BERBAGI - MENUJU PERWUJUDAN DIRI SEJATI"
Saudara-saudari Umat katolik Keuskupan Agung Jakarta yang terkasih,
1. Bersama-sama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu yang akan datang kita memasuki masa Prapaskah. Secara khusus, selama masa Prapaskah kita diajak untuk menyiapkan diri agar pada hari Paskah, kita dapat mengalami secara baru, rahmat keselamatan yang dianugerahkan oleh Allah pada waktu kita dibaptis. Peziarahan rohani ini akan menjadi semakin bermakna kalau ditanda dengan doa yang tekun dan karya-karya kasih yang tulus. Dengan demikian kita; dapat memetik buah-buah penebusan yang menjadi nyata dalam hidup dari yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Dengan menerima hidup baru itu kita semakin mempunyai "pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalan Kristus Yesus" (Flp 2:5), semakin mencapai "kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus" (Ef 4:13). Dengai demikian, Prapaskah adalah masa penuh rahmat ketika kita bersama-sama dengan seluruh Gereja, mengayunkan langkah-langkah kita semakin mantap dalam mengikuti Yesus Kristus. Untuk kepentingan ini, sudah disediakan sarana-sarana pembantu antara lain berupa buku yang berjudul "Retret Agung Umat - Mari Berbagi. Perjalanan Rohani Menanti Kebangkitan"

2.Masa Prapaskah tahun ini kita jalani ketika Gereja Katolik Indonesia mensyukuri Ulang Tahun ke-50 terbentuknya Hirarki, tepatnya pada tanggal 3 hari yang lalu. Limapuluh tahun yang lalu, Pimpinan Gereja Katolik mutuskan untuk mendirikan Hirarki Gereja Katolik Indonesia karena yakin Bahwa Gereja Katolik Indonesia memiliki kemampuan berkembang menjadi gereja yang dewasa, dengan berbagai kekayaan artinya. Salah satunya adalah kemampuan untuk berkembang menjadi Gereja yang merupakan bagian tak pisahkan dari masyarakat dan bangsa Indonesia dengan segala kegembiraan dan harapan serta keprihatinan dan kecemasannya. Sementara itu Keuskupan Agung Jakarta, keuskupan kita, sedang menegaskan kembali cita-cita yang dirumuskan dalam Arah Dasar Pastoral Keuskupan Agung Jakarta, yaitu untuk terus berusaha meneguhkan iman kepada Yesus Kristus, membangun persaudaraan sejati dan terlibat dalam pelayanan kasih. Sejalan dengan cita-cita , dan mempertimbangkan kenyataan hidup di negara kita pada umumnya dan wilayah Keuskupan Agung Jakarta pada khususnya, ditetapkanlah tema Aksi asa Pembangunan "Mari Berbagi". Yang menjadi pertanyaan sekaligus bahan renungan ialah, bagaimana gagasan-gagasan itu, dalam terang Sabda Tuhan yang kita dengarkan pada hari ini, bisa menjadi bekal bagi kita untuk menjadikan masa Prapaskah ini penuh dengan berkat.
Saudari-saudaraku yang terkasih,
3.Sabda Tuhan yang kita dengarkan pada hari ini dapat meneguhkan pokok-pokok perenungan kita itu. Pimpinan Gereja Katolik mendirikan Hirarki Gereja katolik di Indonesia karena yakin bahwa Gereja Indonesia mampu berkembang menjadi Gereja yang dewasa. Seperti apakah Gereja yang dewasa itu? Menurut kata-kata Injil hari ini, Gereja yang dewasa ialah Gereja yang mendengarkan perkataan Yesus dan melakukan-Nya. Dengan demikian Gereja meletakkan hidupnya pada dasar yang kokoh, seperti orang yang mendirikan rumah di atas tu. Pertanyaan berikutnya muncul : apakah artinya meletakkan hidup pada dasar yang kokoh itu? Jawabannya bermacam-macam. Salah satu jawabannya dapat kita ambil dari Kitab Ulangan yang tadi kita dengarkan : kemampuan untuk memilih berkat, bukan kutuk, kemampuan untuk memilih yang baik dan uar, bukan sekedar yang gampang dan enak. Dengan kata lain, Gereja yang dewasa adalah Gereja - artinya kita semua - yang rajin dan tekun mendengarkan Sabda (bukan sekedar mendengar) untuk mencari dan menemukan kehendak Allah di dalamnya. Dengan demikian hati dan budi kita dicerahkan. Sesudah hati dan budi kita dicerahkan, kita membuat ketetapan hati. Ketetapan hati kita bersama inilah yang dirumuskan dalam Arah Dasar Pastoral Keuskupan Agung Jakarta. Ketetapan hati kita adalah memilih berkat. Berkat itulah yang ingin kita wujudkan bersama dengan semboyan "Mari Berbagi" yang akan kita jalankan bersama khususnya selama masa Prapaskah ini.
4.    Salah satu bahan pendukung untuk memperkaya masa Prapaskah ini adalah satu buku yang merupakan kumpulan tulisan yang diberi judul "Mari Berbagi - Menuju Perwujudkan Diri Sejati". Judul buku ini dan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya mengajak kita bertanya, seperti apakah jati diri kita sebagai murid- murid Yesus? Mengenai jati diri manusia, ada juga berbagai macam pendapat. Ada yang mengatakan "Saya berpikir maka saya ada". Bagi yang mengikuti aliran ini, jati diri manusia, hakekat kemanusiaan atau kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya berpikir. Ada pula yang mengatakan, "Saya membeli, maka saya ada" atau "Saya berkuasa, maka saya ada". Judul buku yang saya sebut di atas mengajak kita semua untuk menemukan jati diri atau kemuliaan kita sebagai murid-murid Kristus di tempat yang lain. Kita diajak untuk sampai kepada keyakinan "Saya bukanlah kekuasaan yang dapat saya peroleh, atau milik yang dapat saya kumpulkan. Saya adalah berkat yang dapat saya bagikan dalam belarasa".
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bahwa jati diri manusia dan kemuliaannya terletak dalam kerelaan untuk berbagi, terungkap dalam begitu banyak kisah-kisah kuno. Kisah-kisah seperti itu mengungkapkan kerinduan hati manusia yang terdalam. Salah satunya adalah kisah tentang seorang calon murid yang ingin berguru pada seorang guru bijaksana untuk menjadi manusia mulia. Untuk itu ia pergi kepada seorang guru yang dikenal amat bijaksana. Ia bertanya, "Guru, apa yang harus saya tempuh agar saya menjadi manusia mulia". Guru itu menjawab dengan membisikkan suatu mantra, sambil berpesan agar tidak memberitahukan mantra itu kepada siapa pun juga. Calon murid itu bertanya lagi kepada sang guru, "Apa yang akan terjadi kalau saya memberitahukan mantra ini kepada orang lain". Sang guru menjawab, "Orang yang mendengar mantra ini, hati dan budinya akan tercerahkan. Tetapi engkau sendiri akan diusir dari perguruan ini dan menderita". Sesudah mendengar jawaban sang guru, calon murid itu pergi ke tempat-tempat yang ramai dan memberitahukan mantra itu kepada semua orang yang ia jumpai. Benar, hati dan budi orang-orang yang mendengar mantra itu tercerahkan, wajah mereka menjadi bersinar memancarkan kebahagiaan. Murid- murid yang lain protes dan menuntut agar sang guru mengusir calon murid ini. Kepada mereka sang guru menjawab, "Dia tidak perlu lagi menjadi murid, dia sudah bisa menjadi guru". Pesan dongeng ini jelas : jalan menuju kesempurnaan dan kemuliaan sebagai manusia ialah berbagi kehidupan, kalau perlu dengan berani menanggung risiko. Kita mempunyai yang bukan dongeng, yaitu Yesus ristus yang telah membagikan hidup-Nya bagi damai sejahtera kita. Berarti, dalam diri Yesus-lah kerinduan hati kita yang terdalam terpenuhi. Membangun hidup sehati dan seperasaan dengan Yesus inilah yang kita pupuk secara khusus dalam masa Prapaskah dengan doa yang tekun dan karya-karya kasih.
Marilah kita bersama-sama memasuki masa Prapaskah ini dengan penuh pengharapan dan syukur. Marilah kita gunakan kesempatan pertemuan dan ihan-bahan yang sudah disediakan dengan sebaik-baiknya. Semoga masa :apaskah ini menjadi masa yang penuh rahmat bagi kita masing-masing, bagi keluarga dan komunitas kita. Tuhan memberkati.
 Jakarta, maret 2011

+ I. Suharyo
Uskup KAJ

Rabu, 02 Februari 2011

PESAN BAPA SUCI PAUS BENEDICTUS XVI,UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-19

PESAN BAPA SUCI
PAUS BENEDICTUS XVI
 
UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-19
 
11 Februari 2011
 
“OLEH BILUR-BILURNYA KAMU TELAH SEMBUH” (1 Pet 2:24)
 
 
 
Saudara saudari terkasih,
Setiap tahun, Gereja memperingati Hari Orang Sakit Sedunia pada Peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes , yang biasanya dirayakan pada setiap tanggal 11 Februari. Hal ini, sebagaimana diharapkan oleh Venerabilis Paus Yohanes Paulus II, merupakan kesempatan yang baik dan tepat untuk merenungkan misteri penderitaan, terutama untuk mengajak komunitas-komunitas gerejani dan masyarakat sipil lainnya lebih peka terhadap saudara-saudari kita yang sakit. Jika setiap orang adalah saudara, terlebih lagi orang yang lemah, yang menderita dan yang membutuhkan perhatian, maka mereka harus menjadi pusat perhatian kita, sehingga tak seorangpun dari mereka merasa dilupakan atau dipinggirkan. Karena sesungguhnya: "Tolok ukur kemanusiaan pada dasomya ditentukan oleh kaitan antara penderitaan dengan si penderita. Hal ini berlaku baik bagi individu maupun masyarakat. Suatu masyarakat yang tak mampu menerima para penderita dan tak mampu berbagi derita dengan mereka dan berbelas-kasih terhadap mereka, adalah masyarakat yang bengis dan tidak manusiawi" (Ensiklik "Spe Salvi", No. 38). Semoga aneka inisiatif yang dirancang oleh masing-masing keuskupan pada peringatan ini menjadi suatu pendorong dan semakin efektif dalam memberi perhatian kepada mereka yang menderita, termasuk dalam konteks peringatan akbar yang akan dilangsungkan di tempat peziarahan gua Maria di Altotting, Jerman pada tahun 2013 nanti.
1.      Saya masih ingat ketika dalam serangkaian kunjungan pastoral ke Turin, saya dapat berhenti sejenak dalam refleksi dan doa saya di depan kain Kafan Suci, di hadapan Wajah yang menderita, yang mengundang kita untuk merenungkan Diri-Nya, yang mau menerima beban derita manusia dari setiap jaman dan tempat, bahkan penderitaan kita, kesulitan-kesulitan kita, dosa­dosa kita. Betapa banyak orang beriman sepanjang sejarah telah mengunjungi kain kafan, yang digunakan untuk membungkus tubuh seorang yang disalibkan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Injil yang telah disampaikan kepada kita tentang penderitaan dan wafat Yesus! Merenungkan hal ini adalah suatu undangan untuk merefleksikan apa yang ditulis oleh St. Petrus : "Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh" (1 Petrus 2:24).
 
Putera Allah telah menderita, la telah wafat, tetapi la telah bangkit kembali. Memang benarlah demikian karena melalui peristiwa-peristiwa tersebut luka-lukaNya menjadi tanda penebusan, pengampunan dan perdamaian kembali kita dengan Bapa. Namun demikian peristiwa derita, wafat clan kebangkitan tersebut sekaligus juga menjadi ujian iman bagi para Murid dan iman kita. Setiap kali Tuhan berbicara tentang penderitaan dan wafat-Nya, para murid tidak dapat mengerti, mereka menolaknya dan menyangkalnya. Bagi mereka, sama dengan bagi kita, penderitaan itu selalu penuh dengan misteri, sulit untuk kita terima dan kita tanggung. Sebab peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di Yerusalem dalam hari-hari itu, membuat dua orang Murid dari Emaus berjalan dengan hati sedih, dan hanya ketika Dia yang bangkit berjalan bersama dengan mereka, maka terbukalah mereka terhadap pemahaman yang baru (bdk. Lukas 24:13-31). Bahkan Rasul Thomas sendiri menunjukkan kesulitannya untuk meyakini jalan penebusan melalui penderitaan : "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya don sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (Yoh.20:25). Namun sebelum Yesus menunjukkan luka­luka-Nya, jawaban-nya (rasul Thomas) telah berubah menjadi sebuah pernyataan iman yang mengharukan: "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yoh. 20:28). Apa yang pada awalnya merupakan halangan besar, sebab hal ini merupakan tanda kegagalan Yesus yang nyata, menjadi bukti cinta yang begitu kuat, berkat perjumpaan dengan Dia yang telah bangkit: "Hanya Allah yang mengasihi kita sampai berani menanggung bagi diri-Nya luka-luka don penderitaan kita, khususnya penderitaan yang bukan karena kesalahan-Nya sendiri, Allah semacam itulah yang pantas diimani" (Pesan Urbi et Orbi, Paskah 2007).
 
2.      Saudara-saudari yang sedang sakit dan menderita, alangkah baik sekali bahwa melalui penderitaan Kristus kita dapat melihat, dengan mata pengharapan, semua kejahatan yang menimpa umat manusia. Berkat kebangkitan-Nya, Tuhan tidak menyingkirkan penderitaan dan kejahatan dari dunia, melainkan Dia telah menaklukan derita dan kejahatan itu dari akarnya. Keangkuhan kejahatan Dia lawan dengan keagungan kasih-Nya. Oleh karena itu, la menunjukkan kepada kita bahwa jalan menuju kedamaian dan sukacita adalah Kasih: "Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yoh.13:34). Kristus, sang Pemenang atas maut, hidup dan tinggal di tengah-tengah kita. Dan bersama St. Thomas kita berkata : "Ya Tuhanku don Allahku!" Marilah kita mengikuti Tuhan yang selalu siap untuk mempersembahkan hidup kita bagi saudara­-saudara kita (1Yoh.3:16), menjadi pembawa kabar sukacita tanpa takut akan penderitaan. Inilah sukacita Kebangkitan.
 
St. Bernardus pernah mengatakan: “Allah tidak dapat menderita, tetapi la dapat menderita bersama." Allah, yang adalah Kebenaran dan Kasih dalam diri manusia, berkenan menderita bagi clan bersama dengan kita. la menjadi manusia supaya dapat menderita bersama dengan manusia dalam arti yang sebenarnya, dalam darah dan daging. Oleh karena itu, Dia telah masuk dalam diri seorang Manusia untuk berbagi dan menanggung derita bagi setiap penderitaan manusia. la menawarkan pengiburan terhadap semua penderitaan, suatu penghiburan karena keterlibatan kasih Allah, yang membuat bintang pengharapan bersinar (bdk. Ensiklik "Spe Solvi" 39).
 
Saya ulangi sekali lagi pesan ini kepada kamu, Saudara dan Saudari, supaya kamu menjadi saksi akan hal ini melalui derita, hidup dan imanmu.
 
3.      Sambil menanti pertemuan di Madrid, Agustus 2011, pada perayaan Hari Kaum Muda Sedunia, saya juga akan menyampaikan suatu refleksi khusus bagi kaum muda, terutama mereka yang pernah mengalami penderitaan penyakit. Seringkali, Penderitaan dan Salib Yesus menyebabkan ketakutan, karena seolah-olah menjadi penyangkalan terhadap kehidupan. Kenyataannya justru sangat berlawanan! Salib adalah Jawaban "ya" dari Allah bagi umat manusia, suatu ungkapan tertinggi clan terdalam kasih Allah, cumber yang mengalir untuk kehidupan kekal. Dari hati Yesus yang terluka, hidup ilahi mengalir. la sendiri sanggup membebaskan dunia dari kejahatan dan menjadikan Kerajaan-Nya: kerajaan keadilan, perdamaian dan kasih tumbuh, kerajaan yang kita semua cita-citakan. (bdk. Pesan untuk Hari Kaum Muda Sedunia 2011, no. 3).
 
Kaum muda yang terkasih, belajarlah "melihat" dan "menjumpai" Yesus di dalam Ekaristi, di mana la hadir bagi kita secara nyata, yang menjadikan diri­Nya makanan untuk perjalanan kita, tetapi ketahuilah bagaimana mengenal dan melayani Dia, yaitu di dalam diri saudara-saudara yang miskin, sakit, menderita dan dalam kesulitan, juga yang membutuhkan bantuanmu (bdk. Ibid, no. 4). Bagi kamu semua hai kaum muda, baik yang sakit maupun yang sehat, saya ulangi lagi undangan untuk membangun jembatan kasih dan solidaritas, supaya tidak seorangpun merasa sendirian, melainkan dekat dengan Allah dan menjadi bagian dari keluarga besar anak-anak-Nya (bdk. Audiensi Umum, 15 November 2006)
 
4.      Ketika merenungkan bilur-bilur Yesus, kita arahkan pandangan kita kepada Hati-Nya yang Mahakudus di mana kasih Allah dinyatakan dengan cara yang paling agung. Hati Tersuci adalah Kristus yang tersalib, dengan lambung-Nya tertembus oleh tikaman tombak, dari sanalah darah dan air mengalir (bdk. Yoh. 19:34): "simbol Sakramen-sakramen Gereja, sehingga semua orang yang ditarik kepada hati Sang Juru Selarnat, boleh minum dari sumber air keselamatan abadi" (Missa Romawi, Prefasi Hari Raya Hati Kudus Yesus). Khususnya kamu semua yang sedang menderita sakit, hendaknya merasakan betapa dekatnya dengan Hati Kudus Yesus yang penuh kasih dan ambilah air dari mata air ini dengan iman dan sukacita, sambil bercloa : “Air lambung Kristus, bersihkanlah aku. Sengsara Kristus, kuatkanlah aku. 0 Yesus yang baik, dengarkanlah aku. Dalam luka-luka-Mu, sembunyikanlah aku" (doa St. Ignatius Loyola).
 
5.      Mengakhiri pesan saya untuk Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya ingin mengungkapkan kasih saya bagi setiap orang, sambil merasakan keterlibatan saya di dalam penderitaan dan pengharapanmu sehari-hari dalam persekutuan dengan Kristus yang tersalib dan bangkit, hingga la memberimu damai dan kesembuhan batin. Semoga bersama Kristus yang telah wafat dan bangkit, Santa Perawan Maria yang kepadanya kita mohon dengan penuh iman, selalu menjagamu karena gelarnya adalah Pelindung orang sakit dan Penghibur orang yang menderita. Di bawah kaki salib, terpenuhilah di sana nubuat Simeon: hatinya sebagai Ibu tertembus pedang (bdk. Luk. 2:35). Dari jurang penderitaannya, karena partisipasinya dalam penderitaan Puteranya, Maria dimampukan menerima misi barunya: menjadi ibu Kristus di dalam anggota-anggota (Gereja-Nya). Pada saat penyaliban, Yesus menyerahkan kepada Maria setiap murid-Nya: "Inilah anakmu" (bdk. Yoh. 19:26-27). Kasih keibuan Maria bagi Putera-nya menjadi kasih keibuan bagi setiap orang di antara kita dalam penderitaan kita sehari­hari (bdk. Khotbah di Lourdes, 15 September 2008).
Saudara-saudari terkasih, pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya juga mengundang para penguasa untuk lebih menginventasikan lagi sistem-sistem kesehatan yang dapat menyediakan bantuan dan dukungan bagi yang menderita, terlebih mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan. Dan bagi semua keuskupan, saya menyampaikan salam kasih kepada para uskup, para imam, kaum religius, para seminaris, para petugas kesehatan, para sukarelawan dan semua orang yang membaktikan dirinya dengan kasih untuk merawat dan meringankan luka-luka setiap saudara-saudari yang sakit, di rumah-rumah sakit atau di panti-panti perawatan, maupun dalam keluarga. Dalam wajah-wajah orang-orang yang sakit itu, ketahuilah bagaimana agar dapat melihat Wajah di antara wajah-wajah itu: Wajah Kristus sendiri.
Saya kenangkan kamu semua dalam doa saya, seraya memberikan berkat khusus apostolik kepada kamu masing-­masing.
Dari Vatikan, 21 November 2010
Pada Pesta Kristus Raja Semesta Alam
Benediktus XVI
 
Penerjemah: Karya Kepausan Indonesia, Jl Cut Mutia 10 Jakarta

Kamis, 04 November 2010

S A G K I (Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ) 2010

PRESS RELEASE
UNTUK DISIARKAN SEGERA (Embedded, Jumat (29/10/2010 pukul 14.00)
http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/273/SIDANG_AGUNG_GEREJA_KATOLIK_INDONESIA_2010_2


SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA 2010
“Ia Datang Supaya Semua Memperoleh Hidup Dalam Kelimpahan”
(bdk. Yoh 10:10)
1-5 November 2010
Pada tahun 2010 ini, Gereja Katolik Indonesia akan kembali menggelar Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (“SAGKI”) sebagai pertemuan rutin yang lazim diadakan setiap 5 (lima) tahun sekali. Sebagaimana halnya SAGKI 2000 dan SAGKI 2005 yang lalu, pada SAGKI 2010 ini Gereja Katolik Indonesia kembali menegaskan bahwa Gereja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari realitas bangsa Indonesia. Justru dalam konteks Indonesia yang beragam dan plural inilah, Gereja Katolik hendak menyadari dan menghidupi terus-menerus “Wajah Yesus” untuk kemudian terpanggil mewujudnyatakan panggilan perutusan Gereja untuk mewartakan Yesus, Sang Kabar Gembira Keselamatan dalam berbagai lingkup kehidupan. Sejalan dengan semangat SAGKI 2000 untuk mewujudkan dan memberdayakan Komunitas Basis untuk menuju Indonesia Baru dan SAGKI 2005 yang mengusung semangat “Bangkit dan Bergerak untuk membentuk Keadaban Publik Bangsa”, maka SAGKI 2010 menjadi kesempatan Gereja, baik
klerus maupun umat untuk merayakan panggilannya sebagai Gereja Yang Diutus.
Metode Narasi, yakni ”saling menuturkan kisah” dan ”saling mendengarkan kisah” menjadi warna yang khas dalam perayaan iman SAGKI 2010. Inilah inspirasi dari Kongres Misi Asia I yang diselenggrakan di Chiang Mai, Thailand pada tahun 2006 lalu bagi SAGKI 2010. Metode Narasi diyakini sebagai bentuk pewartaan iman paling efektif dan ”khas” untuk orang Asia. Keyakinan ini ditandaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam dokumen Ecclesia in Asia pada tahun 1999.
Dalam suasana perayaan yang penuh dengan kekerabatan dan bukan merupakan bentuk refleksi akademis, SAGKI 2010 akan menjadi media yang tepat bagi 385 peserta yang terdiri dari para Uskup, Imam, Biarawan-Biarawati dan Umat yang berasal dari 37 Keuskupan di Indonesia untuk saling menarasikan kisah-kisah karya evangelisasi dan pastoralnya dalam konteks Indonesia. Beragam kisah ”Wajah Yesus”, baik dalam lingkup Gereja lokal, dalam keberagaman umat, dalam konteks sentra-sentra perkotaan, pelosok-pelosok pedesaan, maupun dalam situasi kelompok-kelompok sosial terstruktur maupun yang tercerai berai. Situasi kontekstual yang kompleks tersebut akan terangkum dalam 3 sub tema, yakni “Mencari Wajah Yesus dalam dialog dengan budaya” (hari pertama sesi narasi); “Mengenali Wajah Yesus dalam dialog dengan Agama dan Kepercayaan lain” (hari kedua sesi narasi) dan “Mengenali Wajah Yesus dalam Pergumulan Hidup Kaum Marjinal dan Terabaikan” (hari ketiga
sesi narasi). Sungguh, tiga realitas Wajah Yesus itu sungguh dominan dalam situasi berbangsa dan bernegara kita dewasa ini. Ketiga realitas tersebut menjadi cermin dari situasi kehidupan sosio-budaya, kehidupan sosio religius dan kehidupan sosio ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, wajah-wajah Yesus yang demikian jelas akan memperkaya cara beriman Gereja dan membangkitkan revitalisasi semangat misi Gereja Katolik Indonesia.
Selama sepekan ke depan, Gereja melalui SAGKI 2010 ini akan menjadikan kisah-kisah ”Wajah Yesus” yang disajikan dalam bentuk Narasi Publik maupun Narasi Kelompok, perayaan, doa-doa dan ibadat, Ekaristi, maupun Ekspresi Budaya sebagai sumber kekuatan dan bentara cinta serta damai Kristus di tengah-tengah berbagai prasangka sosial-politik, serangan teror, bencana alam dan bencana buatan manusia. dan dengan keyakinan bahwa melalui Dia, rekonsiliasi itu akan terjadi dan damai yang dirindukan itu akan tercapai.
Harapannya, revitalisasi semangat perutusan para peserta SAGKI 2010 selanjutnya disebarluaskan dan ditularkan ke Keuskupan mereka masing-masing, baik melalui tuturan mereka tentang apa yang mereka alami selama mengikuti SAGKI 2010 maupun melalui dokumen tertulis dan tak tertulis tentang SAGKI 2010. Kekayaan yang dihasilkan SAGKI 2010 diharapkan dimiliki dan dihayati Gereja Indonesia melalui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, antara lain, oleh komisi-komisi Gereja, baik di tingkat nasional (KWI) maupun di tingkat lokal (keuskupan-keuskupan).

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi:
Bapak Eddy Hidayat
(Koordinator Seksi Dokumentasidan Humas SAGKI 2010)
HP: 0856 9237 3004
Email: ediwartawan@yahoo.com ediwartawan%40yahoo.com>

Note:
Jumpa Pers SAGKI 2010:
Hari/Tanggal: Jumat/29 Oktober 2010-10-28
Jam: 14.00 diawali makan siang
Acara: Pemaparan kegiatan oleh Ketua KWI dan Sekum KWI serta Ketum SAGKI 2010 Rm Agus Duka
Tempat: Lantai empat Gedung KWI, Jalan Cut Mutiah, Jakarta Pusat

Bandung, 29 Oktober 2010
Salam, doa 'n Berkat Tuhan,
+ Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal KWI

Selasa, 28 September 2010

SEKEDAR TAHU BOLEH DONK

Bila kita hendak bepergian menggunakan pesawat terbang, pasti akan terbayang bagaimana rasanya bila sudah berada di angkasa:astig:. Nah, bagaimana bila saat naik pesawat terbang kita malah merasa tidak nyaman karena telinga dan kepala kita terasa sakit sekali bahkan rasanya kepala seperti mau pecah:ayokona:?

Apakah normal keadaan ini? Keadaan ini disebut Oklusi Tuba atau adanya sumbatan pada saluran tuba yang berada di telinga. Tuba eustachius / Eusthacian tube adalah saluran yang dimulai dari telinga tengah dan berakhir dibelakang hidung atau didaerah pangkal tenggorok. Saluran ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara di telinga tengah dan tekanan udara di luar. Bila terjadi perbedaan tekanan maka saluran ini akan membuka dan membiarkan udara masuk ke telinga tengah sehingga tekanan menjadi seimbang.

Kapan bisa terjadi perbedaan tekanan tersebut? Kalo kita mau naik pesawat, pada saat pesawat hendak take off atau landing atau ketika pesawat naik turun diudara, telinga kita akan terasa seperti penuh atau buntu atau agak kurang mendengar, ini diakibatkan karena terjadi perbedaan tekanan seperti tadi. Biasanya kita akan langsung merespon dengan menelan ludah sehingga pendengaran kita menjadi normal kembali. Dengan menelan ludah ini akan menyebabkan tuba terbuka dan udara luar dapat masuk ketelinga bagian tengah.

Pada beberapa orang dengan gangguan pada Tuba eustachius atau pada orang yang lagi kena flu/pilek akan terjadi kesulitan untuk menyeimbangkan tekanan tersebut(pada saat pesawat diudara) sehingga udara tidak dapat masuk ke telinga tengah dan berakibat telinga tengah menjadi vakum, pada keadaan seperti ini saluran tuba tadi akan merespon dengan memperkecil ruang telinga tengah dan menarik jaringan sekitarnya agar tekanan agak seimbang, dan respon ini yang menyebabkan rasa nyeri luar biasa seperti kepala mau pecah. Bagaimana solusinya:nggaya:?

Pada orang2 tertentu dengan gangguan pada saluran tuba atau yang lagi kena flu, bila hendak naik pesawat sebaiknya memakai obat tetes hidung yang berfungsi untuk membuka saluran tuba, saat sebelum berangkat (atau bisa juga dengan obat dekongestan oral/diminum), caranya teteskan pada hidung kanan dan kiri, setelah diteteskan kepala harus miring ke arah yang sama selama kurang lebih 5 menit, jadi saat yang ditetesi hidung kanan, maka kepala miring ke kanan agar cairan masuk ke telinga. Bila diatas pesawat lebih dari 8 jam, bisa diulangi cara ini dan dilakukan didalam pesawat.

Agar tuba membuka terus menerus, perbanyaklah menelan ludah, salah satu cara sederhana adalah dengan mengulum permen, karena dengan mengulum permen maka akan keluar ludah dan mau tidak mau kita akan menelan ludah tadi. Karena itu sebelum pesawat take off pasti pramugari akan membagikan permensenyum, kadang permen yang dibagikan oleh pramugari dianggap sebagai bagian dari service dan langsung cepat2 dihabiskan sebelum pesawat take offsengihnampakgigi, padahal idealnya permen tadi dikulum pelan2 selama perjalanan agar kita menelan ludah terus menerus.

Cara lainnya yaitu dengan menguap, karena bila kita menguap maka udara akan keluar dari telinga, sehingga tekanan akan tetap terjaga.

Khusus pada anak2 atau bayi tidak perlu telinga ditutup dengan kapas (cara ini banyak di nasehatkan oleh orang tua) tetapi cukup dengan diberikan minum yang banyak pada saat pesawat di udara, karena dengan menelan, tuba akan terbuka terus menerus. Menutup telinga dengan kapas tidak efektif untuk mengatasi oklusi tuba pada anak, cara ini hanya berguna untuk mengurangi suara bising pesawat. Jadi bila membawa anak kecil naik pesawat dan anaknya mulai rewel sebaiknya diberi minum air atau susu, karena ada kemungkinan dia mengalami oklusi tuba.

Senin, 27 September 2010

BERSIHKAN Ginjal

BERSIHKAN Ginjal ANDA DENGAN HARGA KURANG DARI $ 1,00 Bertahun-tahun berlalu dan ginjal kita menyaring darah dengan membuang garam,racun dan yang tidak diinginkan memasuki tubuh Kita.
Seiring berjalannya waktu, terjadi akumulasi garam dan hal ini memerlukan perawatan pembersihan.

Bagaimana kita akan melakukan ini?
Sangat mudah, pertama-tama ambil seikat peterseli dan cucilah sampai bersih. Kemudian dipotong dalam potongan-potongan kecil dan masukkan ke dalam panci lalu tuangkan air bersih dan didihkan selama sepuluh menit dan biarkan dingin ke bawah dan kemudian saring dan tuangkan dalam botol yang bersih dan simpan di dalam lemari es hingga dingin.Minum satu gelas setiap hari dan Anda akan melihat semua akumulasi garam dan racun lain yang keluar dari ginjal Anda dengan buang air kecil.
Anda juga akan melihat perbedaan yang tidak pernah rasakan sebelumnya.Peterseli dikenal sebagai pengobatan terbaik untuk membersihkan ginjal dan itu ALAMI!

Rabu, 22 September 2010

Katekese tanggungjawab siapa?

Katekese tanggungjawab siapa?
siapa sajakah yang mau terlibat aktif untuk berpartisipasi dalam karya katekese Gereja?"
Panggilan orang beriman itu salah satunya mewartakan kabar gembira, termasuk juga dalam Gereja. Kenyataannya saya sadari juga belum sungguh sungguh menjalankan tugas mewartakan Injil, tetapi seringnya saya masih lebih suka mewartakan diri sendiri: "kalau ide saya tidak diikuti umat, saya masih tersinggung, kalau kotbah saya dikritik, saya lalu cemberut, kotbah misapun kadang-kadang lalai saya siapkan, sehingga kotbahku menjadi monoton dan tidak menyapa, saya mudah menghindar kalau diminta untuk menggantikan katekis mengajar komuni pertama, dsb."
Katekese ditujukan terutama untuk orang yang sudah dibaptis, sementara untuk mereka yang belum dibaptis dinamakan "pra-evangelisasi" . Apapun namanya, tugas katekese adalah salah satu bagian integral yang tak terpisahkan dari tugas Gereja untuk mewartakan, menguduskan dan menggembalakan. Dalam Gereja, ketiga tugas itu pertama-tama menjadi tanggung jawab Uskup sebagai pengganti para rasul (Lih. KV II, LG art 25-27) Sebagai penanggungjawab utama, Uskup itu dipanggil untuk menampilkan Kristus, Sang Sabda, telah mewartakan Injil Kerajaan Allah dengan perkataan dan perbuatan-Nya. Namun Dialah juga Imam Perjanjian Baru yang menguduskan dunia, tidak hanya dengan doa-Nya tapi juga dengan darah-Nya; Kristus jugalah yang menjadi Gembala yang Baik bagi domba-domba-Nya. Tugas pewartaan tidak terpisah dari tugas pengudusan dan tugas penggembalaan.
Dengan cara begitu, justru karena itu, para imam dipanggil untuk "berpartisipasi" dalam imamat sempurna dari Uskup sebagai pengganti para rasul, karena Gereja kita apostolis bukan? Dalam rangka berpartisipasi itulah, para imam juga dipanggil untuk 3 hal yang sama: mengajar, menguduskan dan menggembalakan (lih. KV II, LG art. 28) Maka 3 tugas itu menjadi tanggung jawab utama para pastor paroki (KHK 1983, no. 528 par.1)
Kan. 528 § 1 Pastor Paroki terikat kewajiban untuk mengusahakan agar sabda Allah diwartakan secara utuh kepada orang-orang yang tinggal di paroki; maka hendaknya ia mengusahakan agar kaum beriman kristiani awam mendapat pengajaran dalam kebenaran-kebenaran iman, terutama dengan homili yang harus diadakan pada hari-hari Minggu dan hari-hari raya wajib, dan juga dengan memberikan pembinaan kateketik, dan hendaknya ia membina karya- karya untuk mengembangkan semangat injili, juga yang menyangkut keadilan sosial; hendaknya ia memperhatikan secara khusus untuk pendidikan katolik anak-anak dan kaum muda; hendaknya ia dengan segala upaya, juga dengan melibatkan bantuan kaum beriman kristiani, mengusahakan agar warta Injil menjangkau mereka juga yang meninggalkan praktek keagamaannya atau tidak memeluk iman yang benar.
Berdasarkan kanon itu, bertanggungjawab artinya : menjadi pelopor yang proaktif untuk berjerihpayah mengusahakan dan memikirkan serta mewujudkan karya pewartaan di tengah Gereja dan masyarakat, bersama sama umat beriman dan orang yang berkehendak baik. Bukankah para awam juga dipanggil untuk menjadi "nabi, imam dan raja" (Lih. KV II, LG art. 34-36). Sebaliknya kalau kekurangan terjadi dalam berkatekese sehingga pengetahuan iman umat tentang Ajaran iman Gereja dan penghayatannya melemah, patutlah diakui, pastilah sebagai seorang imam, saya terlibat dalam menentukan kualitas aspek hidup pewartaan di Gereja lokal.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya "siapakah yang bertanggung jawab katekese", tetapi, "siapa sajakah yang mau berkomitmen dan terlibat aktif untuk berpartisipasi dalam karya katekese Gereja?" Mengapa pertanyaannya menjadi "Siapa yang mau terlibat?" Karena katekese sebagai pewartaan Injil sekaligus juga pembinaan iman umat, pertama-tama adalah anugerah Kristus, Sang Guru yang mempercayakan "depositum fidei", yakni kekayaan iman kepada Gereja. Maka proses katekese sebenarnya proses pewarisan iman oleh Kristus dalam kesatuannya dengan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Dengan "mempercayakan kepada Gereja", katekese itu bukan "perintah seperti majikan kepada buruh", tetapi "karya katekese" adalah kepercayaan Kristus yang mendesak untuk ditanggapi orang beriman. Jadi karya katekese sebenarnya juga pilihan orang yang mau beriman sungguh-sungguh: tidak hanya mengungkapkan imannya dalam doa, tapi bersedia mendengarkan Sabda dan melaksanakannya.
Benarlah kata St Paulus, "Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil" (1Kor 9:16) . Santo Paulus merasa terdesak, dan merasa hidupnya sia-sia kalau tidak menjadi pewarta. Kata-kata yang hidup itu berakar pada pertobatan radikalnya, dari seorang pengejar dan pembunuh para pengikut Kristus menjadi pribadi yang tangguh untuk mewartakan keselamatan yang dat a ng dari Allah dalam peristiwa hidup Yesus. Itulah komitmen yang bersemi, tumbuh dan berkembang begitu subur dan kokoh karena Paulus bangga akan identitasnya sebagai pribadi yang diselamatkan dengan cuma-Cuma oleh darah Kristus, dan ia yakin akan nilai "pengosongan diri Kristus" yang taat sampai mati di salib dan kebangkitan-Nya sehingga kuatlah dasar iman kita. Dengan keyakinan itu, kita pun tidak lagi hanya bertanya, "Siapakah yang bertanggung jawab dalam berkatekese?" tetapi apakah aku sampai pada komitmen yang gigih seperti Santo Paulus, "Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil?"

Jumat, 17 September 2010

Catechismus Catholicse Ecclesiae

PROOEMIUM

« Pater, [...] haec est autem vita aeterna, ut cognoscant Te solum verum Deum et, quem misisti, Iesum Christum » (Io 17,3). Salvator noster Deus « omnes homines vult salvos fieri et ad agnitionem veritatis venire » (1 Tim 2,3-4). « Nec enim nomen aliud est sub caelo datum in hominibus, in quo oportet nos salvos fieri » (Act 4,12), nisi Nomen Iesu.

I. Vita hominis – Deum cognoscere Illumque amare

1 Deus, in Se Ipso infinite perfectus atque beatus, secundum purae bonitatis propositum, hominem libere creavit, ut illum vitae Suae beatae efficeret participem. Quare Ipse omni tempore et in omni loco homini fit propinquus. Hominem Deus vocat et adiuvat ut Eum quaerat, cognoscat atque totis viribus diligat. Omnes homines, peccato dispersos, in unitatem convocat familiae Suae, quae est Ecclesia. Ad id efficiendum, Suum misit Filium tamquam Redemptorem et Salvatorem, cum tempora sunt impleta. In Ipso et per Ipsum homines Deus vocat ut in Spiritu Sancto filii Eius fiant adoptivi atque ideo heredes Eius vitae beatae.

2 Ut haec vocatio in toto resonaret orbe, Christus Apostolos misit, quos elegerat, illis Evangelii nuntiandi praebens mandatum: « Euntes ergo docete omnes gentes, baptizantes eos in nomine Patris et Filii et Spiritus Sancti, docentes eos servare omnia, quaecumque mandavi vobis. Et ecce ego vobiscum sum omnibus diebus usque ad consummationem saeculi » (Mt 28,19-20). Apostoli, huius missionis virtute, « profecti praedicaverunt ubique, Domino cooperante et sermonem confirmante, sequentibus signis » (Mc 16,20).

3 Illi qui, Deo iuvante, hanc vocationem Christi acceperunt eique libere responderunt, impulsi sunt et ipsi Christi amore ad Bonum Nuntium ubique terrarum proclamandum. Hunc thesaurum, quem ab Apostolis acceperant, eorum successores fideliter servaverunt. Christifideles vocantur omnes ut illum de generatione in generationem transmittant, fidem annuntiantes, ex ea in communione fraterna viventes eamque in liturgia et precibus celebrantes.14

II. De fide transmittenda – De catechesi

4 Cito catechesis est appellata nisuum summa in Ecclesia susceptorum ut discipuli arcesserentur, ut homines iuvarentur ad credendum Iesum esse Filium Dei idque credentes vitam haberent in nomine Eius, ut iidem educarentur et in hac vita instituerentur et sic corpus Christi aedificaretur.15

5 « In universum affirmari potest catechesim esse educationem in fide impertiendam pueris, iuvenibus, adultis, potissimum per institutionem doctrinae christianae, quae plerumque cohaerenti fit via atque ratione, eo nempe consilio ut credentes christianae vitae plenitudini initientur ».16

6 Quin cum ipsis confundatur, catechesis cum pluribus aliis elementis missionis pastoralis Ecclesiae conectitur, quae rationem quamdam catecheticam prae se ferunt, catechesim ipsam praeparant aut ex illa manant. Ut sunt: prima Evangelii annuntiatio seu missionalis praedicatio ad fidem excitandam; argumentorum ad credendum inquisitio; vitae christianae experientia; sacramentorum celebratio; in ecclesialem communitatem insertio; apostolicum et missionale testimonium.17

7 « Patet autem catechesim cum omni vita Ecclesiae arcte coniungi atque conecti. Ex ipsa enim potissimum pendet non solum disseminatio Ecclesiae per loca eiusque auctus per numeros, verum multo magis interius Ecclesiae incrementum eiusque convenientia cum Dei consilio ».18

8 Tempora in quibus Ecclesia renovatur, sunt etiam tempora, quibus catechesis insigni traditur ratione. Sic, in magna Patrum Ecclesiae percipitur aetate, sanctos nempe Episcopos in suo ministerio catechesi magni momenti tribuisse partes. Tales enim sanctus Cyrillus Hierosolymitanus, sanctus Ioannes Chrysostomus, sanctus Ambrosius, sanctus Augustinus atque plures alii habentur Patres, quorum opera catechetica exemplo esse pergunt.

9 Ministerium catecheticum vires semper in Conciliis haurit renovatas. Ad hoc quod attinet, Concilium Tridentinum exemplum habetur efferendum: etenim catechesi in suis decretis priores tribuit partes; in illo Catechismus Romanus suam invenit originem, qui etiam eius nomine insignitur et opus est praestantissimum tamquam doctrinae christianae compendium; illud in Ecclesia dispositionem pro catechesi tradenda suscitavit notatu dignam; atque etiam impulit ut plures catechismi, opera sanctorum Episcoporum ac theologorum, veluti sancti Petri Canisii, sancti Caroli Borromeo, sancti Turibii de Mogrovejo vel sancti Roberti Bellarmino, ederentur.

10 Inde mirum non est, in motu a Concilio Vaticano II inducto (quod quidem Concilium Paulus Papa VI tamquam magnum temporis hodierni habuit catechismum), Ecclesiae catechesim iterum mentes ad se convertisse. Directorium generale catecheticum anno 1971 editum, coetus Synodi Episcoporum evangelizationi (1974) et catechesi (1977) dicati, adhortationes apostolicae Evangelii nuntiandi (1975) et Catechesi tradendae (1979), quae illis coetibus respondent, idipsum testantur. Coetus extraordinarius Synodi Episcoporum, anno 1985 celebratus, rogavit: « Valde communiter desideratur Catechismus seu compendium totius doctrinae catholicae, tam de fide quam de moribus conscribendum ».19 Summus Pontifex Ioannes Paulus II huic Synodi Episcoporum voto sese sociavit, id nempe agnoscens: « Desiderium omnino respondet verae necessitati Ecclesiae universalis et Ecclesiarum particularium ».20 Sedulo est adnisus ut hoc Patrum Synodi desiderium in rem duceretur.

III. De huius Catechismi fine atque de illis ad quos ipse dirigatur

11 Scopus huius Catechismi est organicam atque syntheticam offerre expositionem essentialium et fundamentalium doctrinae catholicae de fide et moribus argumentorum sub luce Concilii Vaticani II necnon totius Ecclesiae Traditionis. Sacra Scriptura, sancti Patres, liturgia et Ecclesiae Magisterium praecipui eius sunt fontes. Ad id vero destinatur ut « quasi punctum referentiae sit pro catechismis seu compendiis quae in diversis regionibus componentur ».21

12 Hic Catechismus ad eos praecipue dirigitur qui catechesis officii sponsores habentur: imprimis ad Episcopos quatenus fidei doctores et Ecclesiae sunt Pastores. Illis offertur tamquam instrumentum pro eorum officio adimplendo Dei populum edocendi. Per Episcopos ad illos ulterius dirigitur qui catechismos redigunt, ad presbyteros et ad catechistas. Eius autem lectio omnibus aliis christifidelibus utilis etiam erit.

IV. De huius structura Catechismi

13 Huius Catechismi dispositio magnam catechismorum sequitur traditionem, secundum quam catechesis circa quattuor struitur « fundamentales columnas »: baptismalis scilicet Professionem fidei (Symbolum), fidei sacramenta, vitam secundum fidem (Mandata), credentis orationem (« Pater noster »).

Pars prima: Professio fidei

14 Illi qui per fidem et Baptismum sunt Christi, fidem coram hominibus confiteri debent baptismalem.22 Propterea Catechismus imprimis exponit in quo consistant Revelatio, per quam Deus ad hominem Se vertit eique Se donat, et fides, qua homo Deo respondet (sectio prima). Fidei Symbolum dona colligit compendio, quae Deus, ut omnis boni Auctor, ut Redemptor, ut Sanctificator, homini largitur eaque circa nostri Baptismi « tria capita » disponit - est enim fides in unum Deum: Patrem omnipotentem, Creatorem; et Iesum Christum, Eius Filium, Dominum et Salvatorem nostrum; et Spiritum Sanctum, in sancta Ecclesia (sectio secunda).

Pars secunda: Fidei sacramenta

15 Secunda Catechismi pars exponit quomodo Dei salus, semel pro semper a Christo Iesu atque a Spiritu Sancto peracta, in actionibus sacris liturgiae Ecclesiae reddatur praesens (sectio prima), praesertim vero in septem sacramentis (sectio secunda).

Pars tertia: Vita ex fide

16 Catechismi tertia pars hominis ad Dei imaginem creati ultimum ostendit finem: beatitudinem viasque ad illam perveniendi: per rectum nempe et liberum agendi modum adiumento Legis et gratiae Dei (sectio prima); per modum agendi qui duplex in rem deducit caritatis mandatum quod in decem Dei mandatis explicatur (sectio secunda).

Pars quarta: Oratio in vita ex fide

17 Pars Catechismi postrema de sensu et momento agit orationis in credentium vita (sectio prima). Ipsa per brevem septem postulationum dominicae Orationis clauditur commentarium (sectio secunda). In illis enim summam invenimus bonorum, quae et nos sperare debemus et Pater noster caelestis nobis impertire vult.

V. Pro huius Catechismi usu practicae animadversiones

18 Hic Catechismus ut totius fidei catholicae concipitur organica expositio. Propterea tamquam unum quid legendus est. Eo quod lector in margine textus saepe ad alios remittitur locos (per numeros typis minoribus compositos qui se ad alias referunt paragraphos de eadem re agentes), et ope indicis analytici in extremo volumine positi, fit ut unumquodque argumentum in sua cum fidei summa conspici possit coniunctione.

19 Saepe sacrae Scripturae textus litteraliter non afferuntur, sed mera ad illos (per « cf ») in nota fit allegatio. Pro talium locorum profundiore intellegentia ad textus ipsos accedere oportet. Hae biblicae allegationes pro catechesi sunt laboris instrumentum.

20 Litterarum minorum usus quibusdam in locis indicat de historicae vel apologeticae indolis agi notationibus, vel de expositionibus doctrinalibus complementariis.

21 Allegationes litteris minoribus expressae fontium patristicorum, liturgicorum, magisterialium et hagiographicorum ad expositionem doctrinalem ditandam ordinantur. Hi textus pro usu directe catechetico saepe sunt selecti.

22 In fine cuiusque argumenti unitatem quamdam constituentis, textuum brevium series, per formulas concisas, doctrinae essentialia comprehendunt. Haec « compendia » intendunt locali catechesi praebere suggestiones pro formulis syntheticis et aptis quae memoriae mandentur.

VI. Necessariae accommodationes

23 Hic Catechismus in expositione insistit doctrinali. Ipse enim auxilium afferre intendit ut fides profundius cognoscatur. Eo ipso ad id dirigitur ut haec ad maturitatem perducatur fides, ut in vita altiores agat radices atque ut in testimonio exhibito eluceat.23

24 Propter ipsum scopum ab eo intentum, hic Catechismus non quaerit expositionis et methodorum catecheticarum peragere accommodationes, quae a diversitate culturarum, aetatum, spiritualis maturitatis, socialium et ecclesialium habitudinum eorum postulantur, ad quos dirigitur catechesis. Hae prorsus necessariae accommodationes ad peculiares pertinent catechismos, et adhuc amplius ad eos qui christifideles instituunt.

« Qui docendi munus exercet, omnia omnibus efficiatur, ut et omnes Christo lucrifaciat [...]. Neque vero unius tantum generis homines fidei suae commissos esse arbitretur, ut praescripta quadam et certa docendi formula erudire, atque ad veram pietatem instituere aeque omnes fideles possit: sed cum alii veluti modo geniti infantes sint, alii in Christo adolescere incipiant, nonnulli vero quodammodo confirmata sint aetate, necesse est diligenter considerare, quibus lacte, quibus solidiore cibo opus sit [...]. Id vero Apostolus [...] observandum indicavit [...] ut videlicet intelligerent qui ad hoc ministerium vocati sunt, ita in tradendis fidei mysteriis, ac vitae praeceptis doctrinam ad audientium sensum atque intelligentiam accommodari oportere ».24

Super omnia – caritas

25 Ad hanc praesentationem concludendam in memoriam expedit revocare hoc pastorale principium quod Catechismus Romanus profert:

« Haec nimirum est via illa excellentior, quam [...] Apostolus demonstravit, cum omnem doctrinae et institutionis suae rationem ad charitatem, quae numquam excidit, dirigeret. Sive enim credendum, sive sperandum, sive agendum aliquid proponatur, ita in eo semper charitas Domini nostri commendari debet, ut quivis perspiciat omnia perfectae christianae virtutis opera non aliunde quam a dilectione ortum habere, neque ad alium finem, quam ad dilectionem referenda esse ».25

(14) Cf Act 2,42.

(15) Cf Ioannes Paulus II, Adh. ap. Catechesi tradendae, 1: AAS 71 (1979) 1277-1278.

(16) Ioannes Paulus II, Adh. ap. Catechesi tradendae, 18: AAS 71 (1979) 1292.

(17) Cf Ioannes Paulus II, Adh. ap. Catechesi tradendae, 18: AAS 71 (1979) 1292.

(18) Ioannes Paulus II, Adh. ap. Catechesi tradendae, 13: AAS 71 (1979) 1288.

(19) Synodus Episcoporum, Coetus extraordinarius, Ecclesia sub Verbo Dei mysteria Christi celebrans pro salute mundi. Relatio finalis II, B, a, 4 (E Civitate Vaticana 1985) p. 11.

(20) Ioannes Paulus II, Allocutio Synodo extraordinaria exeunte ad Patres congregatos habita (7 decembris 1985), 6: AAS 78 (1986) 435.

(21) Synodus Episcoporum, Coetus extraordinarius, Ecclesia sub Verbo Dei mysteria Christi celebrans pro salute mundi. Relatio finalis II, B, a, 4 (E Civitate Vaticana 1985) p. 11.

(22) Cf Mt 10,32; Rom 10,9.

(23) Cf Ioannes Paulus II, Adh. ap. Catechesi tradendae, 20-22: AAS 71 (1979) 1293-1296; Ibid., 25: AAS 71 (1979) 1297-1298.

(24) Catechismus Romanus seu Catechismus ex decreto Concilii Tridentini ad parochos, Pii V Pontificis Maximi iussu editus, Praefatio, 11: ed. P. Rodríguez (Città del Vaticano-Pamplona 1989) p. 11.

(25) Catechismus Romanus, Praefatio 10: ed. P. Rodríguez (Città del Vaticano-Pamplona 1989) p. 10.


top

Kamis, 16 September 2010

Tautan yang patut anda kunjungi

http://pijatbagus.wordpress.com/category/terapi-pijat/
http://pijatkeluargasehat.wordpress.com/category/pijat-info/
http://greselt1.blogspot.com/2009/09/terapi-listrik.html
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3936118
http://www.google.com/ig
http://blog.sabda.org/2010/06/10/metode-pa-topikal/
http://www.parokikristoforus.org/prt.asp?PageNum=4
http://katedralbandung.org/
http://jakartacity.olx.co.id/terapi-kesehatan-refleksi-dan-akupresur-dan-terapi-arus-listrik-ala-widy-husada-iid-120277983
http://jakartacity.olx.co.id/terapi-arus-listrik-iid-120281089
http://www.olx.co.id/myolx/myolx.php?x=1
http://jakartacity.olx.co.id/terapi-pijat-listrik-iid-120286917

Kamis, 27 Mei 2010

Teks Lagu Rohani

Di hening kidung sabdaMu

Di hening kidung sabdaMu
Terbentang damai tenang
Di ambang kasih cintaMu
Imanku ingin pulang

Kidung sabdaMU membagi tenang
Nyanyikan lagi akan ku dengar

Kitab Tobit

Kitab Tobit adalah salah satu kitab yang termasuk dalam kanon Alkitab yang diakui oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks, yang dinyatakan kanonik oleh Konsili Karthago pada 397 dan dikukuhkan oleh Gereja Katolik Roma pada Konlisi Trente (1546). Gereja-gereja Protestan menolak kanonisitas kitab ini

Sabtu, 22 Mei 2010

Sejarah Terbentuknya Pro Diakon Paroki

Bertambahnya jumlah umat katolik yang begitu pesat dari tahun ke tahun tidak sebanding dengan jumlah imam. Kurangnya tenaga imam sangat dirasakan saat perayaan ekaristi pada hari minggu, baik untuk membagikan komuni kepada umat maupun untuk kegiatan-kegiatan liturgi lainnya.
Memperhatikan dan mencermati keadaan demikian, maka tahun 1966 Yustinus Kardinal Darmayuwana (pada waktu itu Uskup Agung Semarang) mengajukan permohonan ijin ke Roma melalui Propaganda Fide. Konggregasi untuk Penyebaran Iman, agar Uskup diperkenankan menunjuk beberapa pelayan awam yang dinilai pantas untuk membantu Imam membagikan komuni baik di dalam maupun di luar Perayaan Ekaristi.
Konggregasi Propaganda Fide menanggapi secara positif permohonan itu dan memberi ijin ad experimentum (=untuk percobaan) selama 1 (satu) tahun, dan apabila dirasa perlu dan berjalan dengan baik ijin dapat diperpanjang. Dalam perjalanan waktu dirasakan bahwa para pembantu imam ini semakin besar peranannya, sehingga Propaganda Fide memberi ijin untuk melanjutkan bentuk pelayanan ini dan hal tersebut berlaku hingga sekarang.
Pada mulanya para awam yang dipilih dan bersedia membantu imam ini dinamakan “Diakon Awam”. Kata “diakon” bukan jabatan mulia, melainkan jabatan yang hina. Tetapi pada jaman para rasul, istilah itu diangkat artinya, kata diakonos mendapat arti baru.
Diakon diangkat menjadi suatu jabatan yang mulia, karena yang dilayani adalah Tubuh Kristus, yaitu jemaat. “Diakon Awam” adalah awam yang menerima tugas dari Uskup, bukan “expotestate ordinis” atau “jurisdictionis” (berkat kuasa tahbisan atau hukum), melainkan berkat anugerah istimewa gereja melalui Konggregasi Propaganda Fide.
Akhir tahun 1983, nama “Diakon Awam” digandi menjadi “Diakon Paroki”, karena dirasakan bahwa istilah “Diakon Awam” kurang tepat. Pengertian “diakon” lebih tepat dikenakan kepada seseorang yang telah ditahbiskan (=tertahbis) dan karena tahbisannya itu ia bukan lagi seorang “awam”. Dia termasuk klerus. Dalam istilah “Diakon Paroki” kecuali kata “Awam” dihilangkan, juga jangkauan tugasnya dirinci jelas. Diakon Paroki bukan Diakon Tertahbis, tetapi diharapkan dapat menjalankan tugas yang sebenarnya menjadi tugas Diakon Tertahbis. Kalau Diakon Tertahbis bersifaf kekal dan universal, maka diakon paroki bersifat sementara dalam menjalankan tugasnya dan bertugas dalam lingkup paroki tertentu. Masa tugas umumnya tiga tahun dan dapat diperpanjang.
Dalam rapat Konsultores Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 5-6 Agustus 1985 di Girisonta diputuskan bahwa istilah “Diakon Paroki” diubah menjadi “Prodiakon Paroki”. Istilah Prodiakon Paroki berarti seseorang yang menjalankan tugas diakon dalam lingkup paroki. Prodiakon Paroki berarti seseorang yang menjalankan tugas diakon dalam lingkup paroki. Prodiakon Paroki diangkat oleh Uskup atas usul Pastor Paroki untuk menerimakan komuni, memimpin upacara pemakaman, dan lain-lain. Dalam menjalankan tugasnya, Prodiakon Paroki tergantung pada pastor paroki. Dalam perkembangan waktu nampak jelas bahwa kehadiran Prodiakon Paroki sangat diperlukan oleh gereja dan dapat diterima oleh umat dengan baik.
Di Keuskupan Agung Jakarta pembentukan Prodiakon Paroki direstui bahkan dianjurkan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, karena didasari manfaat dan kegunaannya. Kebijaksanaan ini dilanjutkan oleh Uskup Agung Jakarta yang sekarang, Yulius Kardinal Darmaatmadja, sehingga semakin banyak paroki yang memiliki Prodiakon Paroki.

Selamat Datang

Mari kita merenung dalam masa seperti saat ini

RUANG KATEKESE

RUANG KATEKESE
KLIK PADA GAMBAR