Kamis, 04 November 2010

S A G K I (Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ) 2010

PRESS RELEASE
UNTUK DISIARKAN SEGERA (Embedded, Jumat (29/10/2010 pukul 14.00)
http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/273/SIDANG_AGUNG_GEREJA_KATOLIK_INDONESIA_2010_2


SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA 2010
“Ia Datang Supaya Semua Memperoleh Hidup Dalam Kelimpahan”
(bdk. Yoh 10:10)
1-5 November 2010
Pada tahun 2010 ini, Gereja Katolik Indonesia akan kembali menggelar Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (“SAGKI”) sebagai pertemuan rutin yang lazim diadakan setiap 5 (lima) tahun sekali. Sebagaimana halnya SAGKI 2000 dan SAGKI 2005 yang lalu, pada SAGKI 2010 ini Gereja Katolik Indonesia kembali menegaskan bahwa Gereja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari realitas bangsa Indonesia. Justru dalam konteks Indonesia yang beragam dan plural inilah, Gereja Katolik hendak menyadari dan menghidupi terus-menerus “Wajah Yesus” untuk kemudian terpanggil mewujudnyatakan panggilan perutusan Gereja untuk mewartakan Yesus, Sang Kabar Gembira Keselamatan dalam berbagai lingkup kehidupan. Sejalan dengan semangat SAGKI 2000 untuk mewujudkan dan memberdayakan Komunitas Basis untuk menuju Indonesia Baru dan SAGKI 2005 yang mengusung semangat “Bangkit dan Bergerak untuk membentuk Keadaban Publik Bangsa”, maka SAGKI 2010 menjadi kesempatan Gereja, baik
klerus maupun umat untuk merayakan panggilannya sebagai Gereja Yang Diutus.
Metode Narasi, yakni ”saling menuturkan kisah” dan ”saling mendengarkan kisah” menjadi warna yang khas dalam perayaan iman SAGKI 2010. Inilah inspirasi dari Kongres Misi Asia I yang diselenggrakan di Chiang Mai, Thailand pada tahun 2006 lalu bagi SAGKI 2010. Metode Narasi diyakini sebagai bentuk pewartaan iman paling efektif dan ”khas” untuk orang Asia. Keyakinan ini ditandaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam dokumen Ecclesia in Asia pada tahun 1999.
Dalam suasana perayaan yang penuh dengan kekerabatan dan bukan merupakan bentuk refleksi akademis, SAGKI 2010 akan menjadi media yang tepat bagi 385 peserta yang terdiri dari para Uskup, Imam, Biarawan-Biarawati dan Umat yang berasal dari 37 Keuskupan di Indonesia untuk saling menarasikan kisah-kisah karya evangelisasi dan pastoralnya dalam konteks Indonesia. Beragam kisah ”Wajah Yesus”, baik dalam lingkup Gereja lokal, dalam keberagaman umat, dalam konteks sentra-sentra perkotaan, pelosok-pelosok pedesaan, maupun dalam situasi kelompok-kelompok sosial terstruktur maupun yang tercerai berai. Situasi kontekstual yang kompleks tersebut akan terangkum dalam 3 sub tema, yakni “Mencari Wajah Yesus dalam dialog dengan budaya” (hari pertama sesi narasi); “Mengenali Wajah Yesus dalam dialog dengan Agama dan Kepercayaan lain” (hari kedua sesi narasi) dan “Mengenali Wajah Yesus dalam Pergumulan Hidup Kaum Marjinal dan Terabaikan” (hari ketiga
sesi narasi). Sungguh, tiga realitas Wajah Yesus itu sungguh dominan dalam situasi berbangsa dan bernegara kita dewasa ini. Ketiga realitas tersebut menjadi cermin dari situasi kehidupan sosio-budaya, kehidupan sosio religius dan kehidupan sosio ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, wajah-wajah Yesus yang demikian jelas akan memperkaya cara beriman Gereja dan membangkitkan revitalisasi semangat misi Gereja Katolik Indonesia.
Selama sepekan ke depan, Gereja melalui SAGKI 2010 ini akan menjadikan kisah-kisah ”Wajah Yesus” yang disajikan dalam bentuk Narasi Publik maupun Narasi Kelompok, perayaan, doa-doa dan ibadat, Ekaristi, maupun Ekspresi Budaya sebagai sumber kekuatan dan bentara cinta serta damai Kristus di tengah-tengah berbagai prasangka sosial-politik, serangan teror, bencana alam dan bencana buatan manusia. dan dengan keyakinan bahwa melalui Dia, rekonsiliasi itu akan terjadi dan damai yang dirindukan itu akan tercapai.
Harapannya, revitalisasi semangat perutusan para peserta SAGKI 2010 selanjutnya disebarluaskan dan ditularkan ke Keuskupan mereka masing-masing, baik melalui tuturan mereka tentang apa yang mereka alami selama mengikuti SAGKI 2010 maupun melalui dokumen tertulis dan tak tertulis tentang SAGKI 2010. Kekayaan yang dihasilkan SAGKI 2010 diharapkan dimiliki dan dihayati Gereja Indonesia melalui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, antara lain, oleh komisi-komisi Gereja, baik di tingkat nasional (KWI) maupun di tingkat lokal (keuskupan-keuskupan).

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi:
Bapak Eddy Hidayat
(Koordinator Seksi Dokumentasidan Humas SAGKI 2010)
HP: 0856 9237 3004
Email: ediwartawan@yahoo.com ediwartawan%40yahoo.com>

Note:
Jumpa Pers SAGKI 2010:
Hari/Tanggal: Jumat/29 Oktober 2010-10-28
Jam: 14.00 diawali makan siang
Acara: Pemaparan kegiatan oleh Ketua KWI dan Sekum KWI serta Ketum SAGKI 2010 Rm Agus Duka
Tempat: Lantai empat Gedung KWI, Jalan Cut Mutiah, Jakarta Pusat

Bandung, 29 Oktober 2010
Salam, doa 'n Berkat Tuhan,
+ Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal KWI

Selasa, 28 September 2010

SEKEDAR TAHU BOLEH DONK

Bila kita hendak bepergian menggunakan pesawat terbang, pasti akan terbayang bagaimana rasanya bila sudah berada di angkasa:astig:. Nah, bagaimana bila saat naik pesawat terbang kita malah merasa tidak nyaman karena telinga dan kepala kita terasa sakit sekali bahkan rasanya kepala seperti mau pecah:ayokona:?

Apakah normal keadaan ini? Keadaan ini disebut Oklusi Tuba atau adanya sumbatan pada saluran tuba yang berada di telinga. Tuba eustachius / Eusthacian tube adalah saluran yang dimulai dari telinga tengah dan berakhir dibelakang hidung atau didaerah pangkal tenggorok. Saluran ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara di telinga tengah dan tekanan udara di luar. Bila terjadi perbedaan tekanan maka saluran ini akan membuka dan membiarkan udara masuk ke telinga tengah sehingga tekanan menjadi seimbang.

Kapan bisa terjadi perbedaan tekanan tersebut? Kalo kita mau naik pesawat, pada saat pesawat hendak take off atau landing atau ketika pesawat naik turun diudara, telinga kita akan terasa seperti penuh atau buntu atau agak kurang mendengar, ini diakibatkan karena terjadi perbedaan tekanan seperti tadi. Biasanya kita akan langsung merespon dengan menelan ludah sehingga pendengaran kita menjadi normal kembali. Dengan menelan ludah ini akan menyebabkan tuba terbuka dan udara luar dapat masuk ketelinga bagian tengah.

Pada beberapa orang dengan gangguan pada Tuba eustachius atau pada orang yang lagi kena flu/pilek akan terjadi kesulitan untuk menyeimbangkan tekanan tersebut(pada saat pesawat diudara) sehingga udara tidak dapat masuk ke telinga tengah dan berakibat telinga tengah menjadi vakum, pada keadaan seperti ini saluran tuba tadi akan merespon dengan memperkecil ruang telinga tengah dan menarik jaringan sekitarnya agar tekanan agak seimbang, dan respon ini yang menyebabkan rasa nyeri luar biasa seperti kepala mau pecah. Bagaimana solusinya:nggaya:?

Pada orang2 tertentu dengan gangguan pada saluran tuba atau yang lagi kena flu, bila hendak naik pesawat sebaiknya memakai obat tetes hidung yang berfungsi untuk membuka saluran tuba, saat sebelum berangkat (atau bisa juga dengan obat dekongestan oral/diminum), caranya teteskan pada hidung kanan dan kiri, setelah diteteskan kepala harus miring ke arah yang sama selama kurang lebih 5 menit, jadi saat yang ditetesi hidung kanan, maka kepala miring ke kanan agar cairan masuk ke telinga. Bila diatas pesawat lebih dari 8 jam, bisa diulangi cara ini dan dilakukan didalam pesawat.

Agar tuba membuka terus menerus, perbanyaklah menelan ludah, salah satu cara sederhana adalah dengan mengulum permen, karena dengan mengulum permen maka akan keluar ludah dan mau tidak mau kita akan menelan ludah tadi. Karena itu sebelum pesawat take off pasti pramugari akan membagikan permensenyum, kadang permen yang dibagikan oleh pramugari dianggap sebagai bagian dari service dan langsung cepat2 dihabiskan sebelum pesawat take offsengihnampakgigi, padahal idealnya permen tadi dikulum pelan2 selama perjalanan agar kita menelan ludah terus menerus.

Cara lainnya yaitu dengan menguap, karena bila kita menguap maka udara akan keluar dari telinga, sehingga tekanan akan tetap terjaga.

Khusus pada anak2 atau bayi tidak perlu telinga ditutup dengan kapas (cara ini banyak di nasehatkan oleh orang tua) tetapi cukup dengan diberikan minum yang banyak pada saat pesawat di udara, karena dengan menelan, tuba akan terbuka terus menerus. Menutup telinga dengan kapas tidak efektif untuk mengatasi oklusi tuba pada anak, cara ini hanya berguna untuk mengurangi suara bising pesawat. Jadi bila membawa anak kecil naik pesawat dan anaknya mulai rewel sebaiknya diberi minum air atau susu, karena ada kemungkinan dia mengalami oklusi tuba.

Senin, 27 September 2010

BERSIHKAN Ginjal

BERSIHKAN Ginjal ANDA DENGAN HARGA KURANG DARI $ 1,00 Bertahun-tahun berlalu dan ginjal kita menyaring darah dengan membuang garam,racun dan yang tidak diinginkan memasuki tubuh Kita.
Seiring berjalannya waktu, terjadi akumulasi garam dan hal ini memerlukan perawatan pembersihan.

Bagaimana kita akan melakukan ini?
Sangat mudah, pertama-tama ambil seikat peterseli dan cucilah sampai bersih. Kemudian dipotong dalam potongan-potongan kecil dan masukkan ke dalam panci lalu tuangkan air bersih dan didihkan selama sepuluh menit dan biarkan dingin ke bawah dan kemudian saring dan tuangkan dalam botol yang bersih dan simpan di dalam lemari es hingga dingin.Minum satu gelas setiap hari dan Anda akan melihat semua akumulasi garam dan racun lain yang keluar dari ginjal Anda dengan buang air kecil.
Anda juga akan melihat perbedaan yang tidak pernah rasakan sebelumnya.Peterseli dikenal sebagai pengobatan terbaik untuk membersihkan ginjal dan itu ALAMI!

Rabu, 22 September 2010

Katekese tanggungjawab siapa?

Katekese tanggungjawab siapa?
siapa sajakah yang mau terlibat aktif untuk berpartisipasi dalam karya katekese Gereja?"
Panggilan orang beriman itu salah satunya mewartakan kabar gembira, termasuk juga dalam Gereja. Kenyataannya saya sadari juga belum sungguh sungguh menjalankan tugas mewartakan Injil, tetapi seringnya saya masih lebih suka mewartakan diri sendiri: "kalau ide saya tidak diikuti umat, saya masih tersinggung, kalau kotbah saya dikritik, saya lalu cemberut, kotbah misapun kadang-kadang lalai saya siapkan, sehingga kotbahku menjadi monoton dan tidak menyapa, saya mudah menghindar kalau diminta untuk menggantikan katekis mengajar komuni pertama, dsb."
Katekese ditujukan terutama untuk orang yang sudah dibaptis, sementara untuk mereka yang belum dibaptis dinamakan "pra-evangelisasi" . Apapun namanya, tugas katekese adalah salah satu bagian integral yang tak terpisahkan dari tugas Gereja untuk mewartakan, menguduskan dan menggembalakan. Dalam Gereja, ketiga tugas itu pertama-tama menjadi tanggung jawab Uskup sebagai pengganti para rasul (Lih. KV II, LG art 25-27) Sebagai penanggungjawab utama, Uskup itu dipanggil untuk menampilkan Kristus, Sang Sabda, telah mewartakan Injil Kerajaan Allah dengan perkataan dan perbuatan-Nya. Namun Dialah juga Imam Perjanjian Baru yang menguduskan dunia, tidak hanya dengan doa-Nya tapi juga dengan darah-Nya; Kristus jugalah yang menjadi Gembala yang Baik bagi domba-domba-Nya. Tugas pewartaan tidak terpisah dari tugas pengudusan dan tugas penggembalaan.
Dengan cara begitu, justru karena itu, para imam dipanggil untuk "berpartisipasi" dalam imamat sempurna dari Uskup sebagai pengganti para rasul, karena Gereja kita apostolis bukan? Dalam rangka berpartisipasi itulah, para imam juga dipanggil untuk 3 hal yang sama: mengajar, menguduskan dan menggembalakan (lih. KV II, LG art. 28) Maka 3 tugas itu menjadi tanggung jawab utama para pastor paroki (KHK 1983, no. 528 par.1)
Kan. 528 § 1 Pastor Paroki terikat kewajiban untuk mengusahakan agar sabda Allah diwartakan secara utuh kepada orang-orang yang tinggal di paroki; maka hendaknya ia mengusahakan agar kaum beriman kristiani awam mendapat pengajaran dalam kebenaran-kebenaran iman, terutama dengan homili yang harus diadakan pada hari-hari Minggu dan hari-hari raya wajib, dan juga dengan memberikan pembinaan kateketik, dan hendaknya ia membina karya- karya untuk mengembangkan semangat injili, juga yang menyangkut keadilan sosial; hendaknya ia memperhatikan secara khusus untuk pendidikan katolik anak-anak dan kaum muda; hendaknya ia dengan segala upaya, juga dengan melibatkan bantuan kaum beriman kristiani, mengusahakan agar warta Injil menjangkau mereka juga yang meninggalkan praktek keagamaannya atau tidak memeluk iman yang benar.
Berdasarkan kanon itu, bertanggungjawab artinya : menjadi pelopor yang proaktif untuk berjerihpayah mengusahakan dan memikirkan serta mewujudkan karya pewartaan di tengah Gereja dan masyarakat, bersama sama umat beriman dan orang yang berkehendak baik. Bukankah para awam juga dipanggil untuk menjadi "nabi, imam dan raja" (Lih. KV II, LG art. 34-36). Sebaliknya kalau kekurangan terjadi dalam berkatekese sehingga pengetahuan iman umat tentang Ajaran iman Gereja dan penghayatannya melemah, patutlah diakui, pastilah sebagai seorang imam, saya terlibat dalam menentukan kualitas aspek hidup pewartaan di Gereja lokal.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya "siapakah yang bertanggung jawab katekese", tetapi, "siapa sajakah yang mau berkomitmen dan terlibat aktif untuk berpartisipasi dalam karya katekese Gereja?" Mengapa pertanyaannya menjadi "Siapa yang mau terlibat?" Karena katekese sebagai pewartaan Injil sekaligus juga pembinaan iman umat, pertama-tama adalah anugerah Kristus, Sang Guru yang mempercayakan "depositum fidei", yakni kekayaan iman kepada Gereja. Maka proses katekese sebenarnya proses pewarisan iman oleh Kristus dalam kesatuannya dengan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Dengan "mempercayakan kepada Gereja", katekese itu bukan "perintah seperti majikan kepada buruh", tetapi "karya katekese" adalah kepercayaan Kristus yang mendesak untuk ditanggapi orang beriman. Jadi karya katekese sebenarnya juga pilihan orang yang mau beriman sungguh-sungguh: tidak hanya mengungkapkan imannya dalam doa, tapi bersedia mendengarkan Sabda dan melaksanakannya.
Benarlah kata St Paulus, "Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil" (1Kor 9:16) . Santo Paulus merasa terdesak, dan merasa hidupnya sia-sia kalau tidak menjadi pewarta. Kata-kata yang hidup itu berakar pada pertobatan radikalnya, dari seorang pengejar dan pembunuh para pengikut Kristus menjadi pribadi yang tangguh untuk mewartakan keselamatan yang dat a ng dari Allah dalam peristiwa hidup Yesus. Itulah komitmen yang bersemi, tumbuh dan berkembang begitu subur dan kokoh karena Paulus bangga akan identitasnya sebagai pribadi yang diselamatkan dengan cuma-Cuma oleh darah Kristus, dan ia yakin akan nilai "pengosongan diri Kristus" yang taat sampai mati di salib dan kebangkitan-Nya sehingga kuatlah dasar iman kita. Dengan keyakinan itu, kita pun tidak lagi hanya bertanya, "Siapakah yang bertanggung jawab dalam berkatekese?" tetapi apakah aku sampai pada komitmen yang gigih seperti Santo Paulus, "Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil?"

Jumat, 17 September 2010

Catechismus Catholicse Ecclesiae

PROOEMIUM

« Pater, [...] haec est autem vita aeterna, ut cognoscant Te solum verum Deum et, quem misisti, Iesum Christum » (Io 17,3). Salvator noster Deus « omnes homines vult salvos fieri et ad agnitionem veritatis venire » (1 Tim 2,3-4). « Nec enim nomen aliud est sub caelo datum in hominibus, in quo oportet nos salvos fieri » (Act 4,12), nisi Nomen Iesu.

I. Vita hominis – Deum cognoscere Illumque amare

1 Deus, in Se Ipso infinite perfectus atque beatus, secundum purae bonitatis propositum, hominem libere creavit, ut illum vitae Suae beatae efficeret participem. Quare Ipse omni tempore et in omni loco homini fit propinquus. Hominem Deus vocat et adiuvat ut Eum quaerat, cognoscat atque totis viribus diligat. Omnes homines, peccato dispersos, in unitatem convocat familiae Suae, quae est Ecclesia. Ad id efficiendum, Suum misit Filium tamquam Redemptorem et Salvatorem, cum tempora sunt impleta. In Ipso et per Ipsum homines Deus vocat ut in Spiritu Sancto filii Eius fiant adoptivi atque ideo heredes Eius vitae beatae.

2 Ut haec vocatio in toto resonaret orbe, Christus Apostolos misit, quos elegerat, illis Evangelii nuntiandi praebens mandatum: « Euntes ergo docete omnes gentes, baptizantes eos in nomine Patris et Filii et Spiritus Sancti, docentes eos servare omnia, quaecumque mandavi vobis. Et ecce ego vobiscum sum omnibus diebus usque ad consummationem saeculi » (Mt 28,19-20). Apostoli, huius missionis virtute, « profecti praedicaverunt ubique, Domino cooperante et sermonem confirmante, sequentibus signis » (Mc 16,20).

3 Illi qui, Deo iuvante, hanc vocationem Christi acceperunt eique libere responderunt, impulsi sunt et ipsi Christi amore ad Bonum Nuntium ubique terrarum proclamandum. Hunc thesaurum, quem ab Apostolis acceperant, eorum successores fideliter servaverunt. Christifideles vocantur omnes ut illum de generatione in generationem transmittant, fidem annuntiantes, ex ea in communione fraterna viventes eamque in liturgia et precibus celebrantes.14

II. De fide transmittenda – De catechesi

4 Cito catechesis est appellata nisuum summa in Ecclesia susceptorum ut discipuli arcesserentur, ut homines iuvarentur ad credendum Iesum esse Filium Dei idque credentes vitam haberent in nomine Eius, ut iidem educarentur et in hac vita instituerentur et sic corpus Christi aedificaretur.15

5 « In universum affirmari potest catechesim esse educationem in fide impertiendam pueris, iuvenibus, adultis, potissimum per institutionem doctrinae christianae, quae plerumque cohaerenti fit via atque ratione, eo nempe consilio ut credentes christianae vitae plenitudini initientur ».16

6 Quin cum ipsis confundatur, catechesis cum pluribus aliis elementis missionis pastoralis Ecclesiae conectitur, quae rationem quamdam catecheticam prae se ferunt, catechesim ipsam praeparant aut ex illa manant. Ut sunt: prima Evangelii annuntiatio seu missionalis praedicatio ad fidem excitandam; argumentorum ad credendum inquisitio; vitae christianae experientia; sacramentorum celebratio; in ecclesialem communitatem insertio; apostolicum et missionale testimonium.17

7 « Patet autem catechesim cum omni vita Ecclesiae arcte coniungi atque conecti. Ex ipsa enim potissimum pendet non solum disseminatio Ecclesiae per loca eiusque auctus per numeros, verum multo magis interius Ecclesiae incrementum eiusque convenientia cum Dei consilio ».18

8 Tempora in quibus Ecclesia renovatur, sunt etiam tempora, quibus catechesis insigni traditur ratione. Sic, in magna Patrum Ecclesiae percipitur aetate, sanctos nempe Episcopos in suo ministerio catechesi magni momenti tribuisse partes. Tales enim sanctus Cyrillus Hierosolymitanus, sanctus Ioannes Chrysostomus, sanctus Ambrosius, sanctus Augustinus atque plures alii habentur Patres, quorum opera catechetica exemplo esse pergunt.

9 Ministerium catecheticum vires semper in Conciliis haurit renovatas. Ad hoc quod attinet, Concilium Tridentinum exemplum habetur efferendum: etenim catechesi in suis decretis priores tribuit partes; in illo Catechismus Romanus suam invenit originem, qui etiam eius nomine insignitur et opus est praestantissimum tamquam doctrinae christianae compendium; illud in Ecclesia dispositionem pro catechesi tradenda suscitavit notatu dignam; atque etiam impulit ut plures catechismi, opera sanctorum Episcoporum ac theologorum, veluti sancti Petri Canisii, sancti Caroli Borromeo, sancti Turibii de Mogrovejo vel sancti Roberti Bellarmino, ederentur.

10 Inde mirum non est, in motu a Concilio Vaticano II inducto (quod quidem Concilium Paulus Papa VI tamquam magnum temporis hodierni habuit catechismum), Ecclesiae catechesim iterum mentes ad se convertisse. Directorium generale catecheticum anno 1971 editum, coetus Synodi Episcoporum evangelizationi (1974) et catechesi (1977) dicati, adhortationes apostolicae Evangelii nuntiandi (1975) et Catechesi tradendae (1979), quae illis coetibus respondent, idipsum testantur. Coetus extraordinarius Synodi Episcoporum, anno 1985 celebratus, rogavit: « Valde communiter desideratur Catechismus seu compendium totius doctrinae catholicae, tam de fide quam de moribus conscribendum ».19 Summus Pontifex Ioannes Paulus II huic Synodi Episcoporum voto sese sociavit, id nempe agnoscens: « Desiderium omnino respondet verae necessitati Ecclesiae universalis et Ecclesiarum particularium ».20 Sedulo est adnisus ut hoc Patrum Synodi desiderium in rem duceretur.

III. De huius Catechismi fine atque de illis ad quos ipse dirigatur

11 Scopus huius Catechismi est organicam atque syntheticam offerre expositionem essentialium et fundamentalium doctrinae catholicae de fide et moribus argumentorum sub luce Concilii Vaticani II necnon totius Ecclesiae Traditionis. Sacra Scriptura, sancti Patres, liturgia et Ecclesiae Magisterium praecipui eius sunt fontes. Ad id vero destinatur ut « quasi punctum referentiae sit pro catechismis seu compendiis quae in diversis regionibus componentur ».21

12 Hic Catechismus ad eos praecipue dirigitur qui catechesis officii sponsores habentur: imprimis ad Episcopos quatenus fidei doctores et Ecclesiae sunt Pastores. Illis offertur tamquam instrumentum pro eorum officio adimplendo Dei populum edocendi. Per Episcopos ad illos ulterius dirigitur qui catechismos redigunt, ad presbyteros et ad catechistas. Eius autem lectio omnibus aliis christifidelibus utilis etiam erit.

IV. De huius structura Catechismi

13 Huius Catechismi dispositio magnam catechismorum sequitur traditionem, secundum quam catechesis circa quattuor struitur « fundamentales columnas »: baptismalis scilicet Professionem fidei (Symbolum), fidei sacramenta, vitam secundum fidem (Mandata), credentis orationem (« Pater noster »).

Pars prima: Professio fidei

14 Illi qui per fidem et Baptismum sunt Christi, fidem coram hominibus confiteri debent baptismalem.22 Propterea Catechismus imprimis exponit in quo consistant Revelatio, per quam Deus ad hominem Se vertit eique Se donat, et fides, qua homo Deo respondet (sectio prima). Fidei Symbolum dona colligit compendio, quae Deus, ut omnis boni Auctor, ut Redemptor, ut Sanctificator, homini largitur eaque circa nostri Baptismi « tria capita » disponit - est enim fides in unum Deum: Patrem omnipotentem, Creatorem; et Iesum Christum, Eius Filium, Dominum et Salvatorem nostrum; et Spiritum Sanctum, in sancta Ecclesia (sectio secunda).

Pars secunda: Fidei sacramenta

15 Secunda Catechismi pars exponit quomodo Dei salus, semel pro semper a Christo Iesu atque a Spiritu Sancto peracta, in actionibus sacris liturgiae Ecclesiae reddatur praesens (sectio prima), praesertim vero in septem sacramentis (sectio secunda).

Pars tertia: Vita ex fide

16 Catechismi tertia pars hominis ad Dei imaginem creati ultimum ostendit finem: beatitudinem viasque ad illam perveniendi: per rectum nempe et liberum agendi modum adiumento Legis et gratiae Dei (sectio prima); per modum agendi qui duplex in rem deducit caritatis mandatum quod in decem Dei mandatis explicatur (sectio secunda).

Pars quarta: Oratio in vita ex fide

17 Pars Catechismi postrema de sensu et momento agit orationis in credentium vita (sectio prima). Ipsa per brevem septem postulationum dominicae Orationis clauditur commentarium (sectio secunda). In illis enim summam invenimus bonorum, quae et nos sperare debemus et Pater noster caelestis nobis impertire vult.

V. Pro huius Catechismi usu practicae animadversiones

18 Hic Catechismus ut totius fidei catholicae concipitur organica expositio. Propterea tamquam unum quid legendus est. Eo quod lector in margine textus saepe ad alios remittitur locos (per numeros typis minoribus compositos qui se ad alias referunt paragraphos de eadem re agentes), et ope indicis analytici in extremo volumine positi, fit ut unumquodque argumentum in sua cum fidei summa conspici possit coniunctione.

19 Saepe sacrae Scripturae textus litteraliter non afferuntur, sed mera ad illos (per « cf ») in nota fit allegatio. Pro talium locorum profundiore intellegentia ad textus ipsos accedere oportet. Hae biblicae allegationes pro catechesi sunt laboris instrumentum.

20 Litterarum minorum usus quibusdam in locis indicat de historicae vel apologeticae indolis agi notationibus, vel de expositionibus doctrinalibus complementariis.

21 Allegationes litteris minoribus expressae fontium patristicorum, liturgicorum, magisterialium et hagiographicorum ad expositionem doctrinalem ditandam ordinantur. Hi textus pro usu directe catechetico saepe sunt selecti.

22 In fine cuiusque argumenti unitatem quamdam constituentis, textuum brevium series, per formulas concisas, doctrinae essentialia comprehendunt. Haec « compendia » intendunt locali catechesi praebere suggestiones pro formulis syntheticis et aptis quae memoriae mandentur.

VI. Necessariae accommodationes

23 Hic Catechismus in expositione insistit doctrinali. Ipse enim auxilium afferre intendit ut fides profundius cognoscatur. Eo ipso ad id dirigitur ut haec ad maturitatem perducatur fides, ut in vita altiores agat radices atque ut in testimonio exhibito eluceat.23

24 Propter ipsum scopum ab eo intentum, hic Catechismus non quaerit expositionis et methodorum catecheticarum peragere accommodationes, quae a diversitate culturarum, aetatum, spiritualis maturitatis, socialium et ecclesialium habitudinum eorum postulantur, ad quos dirigitur catechesis. Hae prorsus necessariae accommodationes ad peculiares pertinent catechismos, et adhuc amplius ad eos qui christifideles instituunt.

« Qui docendi munus exercet, omnia omnibus efficiatur, ut et omnes Christo lucrifaciat [...]. Neque vero unius tantum generis homines fidei suae commissos esse arbitretur, ut praescripta quadam et certa docendi formula erudire, atque ad veram pietatem instituere aeque omnes fideles possit: sed cum alii veluti modo geniti infantes sint, alii in Christo adolescere incipiant, nonnulli vero quodammodo confirmata sint aetate, necesse est diligenter considerare, quibus lacte, quibus solidiore cibo opus sit [...]. Id vero Apostolus [...] observandum indicavit [...] ut videlicet intelligerent qui ad hoc ministerium vocati sunt, ita in tradendis fidei mysteriis, ac vitae praeceptis doctrinam ad audientium sensum atque intelligentiam accommodari oportere ».24

Super omnia – caritas

25 Ad hanc praesentationem concludendam in memoriam expedit revocare hoc pastorale principium quod Catechismus Romanus profert:

« Haec nimirum est via illa excellentior, quam [...] Apostolus demonstravit, cum omnem doctrinae et institutionis suae rationem ad charitatem, quae numquam excidit, dirigeret. Sive enim credendum, sive sperandum, sive agendum aliquid proponatur, ita in eo semper charitas Domini nostri commendari debet, ut quivis perspiciat omnia perfectae christianae virtutis opera non aliunde quam a dilectione ortum habere, neque ad alium finem, quam ad dilectionem referenda esse ».25

(14) Cf Act 2,42.

(15) Cf Ioannes Paulus II, Adh. ap. Catechesi tradendae, 1: AAS 71 (1979) 1277-1278.

(16) Ioannes Paulus II, Adh. ap. Catechesi tradendae, 18: AAS 71 (1979) 1292.

(17) Cf Ioannes Paulus II, Adh. ap. Catechesi tradendae, 18: AAS 71 (1979) 1292.

(18) Ioannes Paulus II, Adh. ap. Catechesi tradendae, 13: AAS 71 (1979) 1288.

(19) Synodus Episcoporum, Coetus extraordinarius, Ecclesia sub Verbo Dei mysteria Christi celebrans pro salute mundi. Relatio finalis II, B, a, 4 (E Civitate Vaticana 1985) p. 11.

(20) Ioannes Paulus II, Allocutio Synodo extraordinaria exeunte ad Patres congregatos habita (7 decembris 1985), 6: AAS 78 (1986) 435.

(21) Synodus Episcoporum, Coetus extraordinarius, Ecclesia sub Verbo Dei mysteria Christi celebrans pro salute mundi. Relatio finalis II, B, a, 4 (E Civitate Vaticana 1985) p. 11.

(22) Cf Mt 10,32; Rom 10,9.

(23) Cf Ioannes Paulus II, Adh. ap. Catechesi tradendae, 20-22: AAS 71 (1979) 1293-1296; Ibid., 25: AAS 71 (1979) 1297-1298.

(24) Catechismus Romanus seu Catechismus ex decreto Concilii Tridentini ad parochos, Pii V Pontificis Maximi iussu editus, Praefatio, 11: ed. P. Rodríguez (Città del Vaticano-Pamplona 1989) p. 11.

(25) Catechismus Romanus, Praefatio 10: ed. P. Rodríguez (Città del Vaticano-Pamplona 1989) p. 10.


top

Kamis, 16 September 2010

Tautan yang patut anda kunjungi

http://pijatbagus.wordpress.com/category/terapi-pijat/
http://pijatkeluargasehat.wordpress.com/category/pijat-info/
http://greselt1.blogspot.com/2009/09/terapi-listrik.html
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3936118
http://www.google.com/ig
http://blog.sabda.org/2010/06/10/metode-pa-topikal/
http://www.parokikristoforus.org/prt.asp?PageNum=4
http://katedralbandung.org/
http://jakartacity.olx.co.id/terapi-kesehatan-refleksi-dan-akupresur-dan-terapi-arus-listrik-ala-widy-husada-iid-120277983
http://jakartacity.olx.co.id/terapi-arus-listrik-iid-120281089
http://www.olx.co.id/myolx/myolx.php?x=1
http://jakartacity.olx.co.id/terapi-pijat-listrik-iid-120286917

Kamis, 27 Mei 2010

Teks Lagu Rohani

Di hening kidung sabdaMu

Di hening kidung sabdaMu
Terbentang damai tenang
Di ambang kasih cintaMu
Imanku ingin pulang

Kidung sabdaMU membagi tenang
Nyanyikan lagi akan ku dengar

Kitab Tobit

Kitab Tobit adalah salah satu kitab yang termasuk dalam kanon Alkitab yang diakui oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks, yang dinyatakan kanonik oleh Konsili Karthago pada 397 dan dikukuhkan oleh Gereja Katolik Roma pada Konlisi Trente (1546). Gereja-gereja Protestan menolak kanonisitas kitab ini

Sabtu, 22 Mei 2010

Sejarah Terbentuknya Pro Diakon Paroki

Bertambahnya jumlah umat katolik yang begitu pesat dari tahun ke tahun tidak sebanding dengan jumlah imam. Kurangnya tenaga imam sangat dirasakan saat perayaan ekaristi pada hari minggu, baik untuk membagikan komuni kepada umat maupun untuk kegiatan-kegiatan liturgi lainnya.
Memperhatikan dan mencermati keadaan demikian, maka tahun 1966 Yustinus Kardinal Darmayuwana (pada waktu itu Uskup Agung Semarang) mengajukan permohonan ijin ke Roma melalui Propaganda Fide. Konggregasi untuk Penyebaran Iman, agar Uskup diperkenankan menunjuk beberapa pelayan awam yang dinilai pantas untuk membantu Imam membagikan komuni baik di dalam maupun di luar Perayaan Ekaristi.
Konggregasi Propaganda Fide menanggapi secara positif permohonan itu dan memberi ijin ad experimentum (=untuk percobaan) selama 1 (satu) tahun, dan apabila dirasa perlu dan berjalan dengan baik ijin dapat diperpanjang. Dalam perjalanan waktu dirasakan bahwa para pembantu imam ini semakin besar peranannya, sehingga Propaganda Fide memberi ijin untuk melanjutkan bentuk pelayanan ini dan hal tersebut berlaku hingga sekarang.
Pada mulanya para awam yang dipilih dan bersedia membantu imam ini dinamakan “Diakon Awam”. Kata “diakon” bukan jabatan mulia, melainkan jabatan yang hina. Tetapi pada jaman para rasul, istilah itu diangkat artinya, kata diakonos mendapat arti baru.
Diakon diangkat menjadi suatu jabatan yang mulia, karena yang dilayani adalah Tubuh Kristus, yaitu jemaat. “Diakon Awam” adalah awam yang menerima tugas dari Uskup, bukan “expotestate ordinis” atau “jurisdictionis” (berkat kuasa tahbisan atau hukum), melainkan berkat anugerah istimewa gereja melalui Konggregasi Propaganda Fide.
Akhir tahun 1983, nama “Diakon Awam” digandi menjadi “Diakon Paroki”, karena dirasakan bahwa istilah “Diakon Awam” kurang tepat. Pengertian “diakon” lebih tepat dikenakan kepada seseorang yang telah ditahbiskan (=tertahbis) dan karena tahbisannya itu ia bukan lagi seorang “awam”. Dia termasuk klerus. Dalam istilah “Diakon Paroki” kecuali kata “Awam” dihilangkan, juga jangkauan tugasnya dirinci jelas. Diakon Paroki bukan Diakon Tertahbis, tetapi diharapkan dapat menjalankan tugas yang sebenarnya menjadi tugas Diakon Tertahbis. Kalau Diakon Tertahbis bersifaf kekal dan universal, maka diakon paroki bersifat sementara dalam menjalankan tugasnya dan bertugas dalam lingkup paroki tertentu. Masa tugas umumnya tiga tahun dan dapat diperpanjang.
Dalam rapat Konsultores Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 5-6 Agustus 1985 di Girisonta diputuskan bahwa istilah “Diakon Paroki” diubah menjadi “Prodiakon Paroki”. Istilah Prodiakon Paroki berarti seseorang yang menjalankan tugas diakon dalam lingkup paroki. Prodiakon Paroki berarti seseorang yang menjalankan tugas diakon dalam lingkup paroki. Prodiakon Paroki diangkat oleh Uskup atas usul Pastor Paroki untuk menerimakan komuni, memimpin upacara pemakaman, dan lain-lain. Dalam menjalankan tugasnya, Prodiakon Paroki tergantung pada pastor paroki. Dalam perkembangan waktu nampak jelas bahwa kehadiran Prodiakon Paroki sangat diperlukan oleh gereja dan dapat diterima oleh umat dengan baik.
Di Keuskupan Agung Jakarta pembentukan Prodiakon Paroki direstui bahkan dianjurkan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, karena didasari manfaat dan kegunaannya. Kebijaksanaan ini dilanjutkan oleh Uskup Agung Jakarta yang sekarang, Yulius Kardinal Darmaatmadja, sehingga semakin banyak paroki yang memiliki Prodiakon Paroki.

Rabu, 19 Mei 2010

CONTOH LITURGI MIDODARENI (MALAM MENJELANG NIKAH)

Perlengkapan yang hendaknya dipersiapkan :

Altar untuk ibadat sabda
Meja
Taplak Putih
Salib
Lilin
Vas dan bunga hidup (Jika ada)

Air Suci
Hisop (untuk perecikan)

Liturgi Menjelang
Pahargyan Nikah

PEMBUKAAN
Rangkaian acara secara protokoler dibuka oleh pembawa acara atau yang ditunjuk dari pihak keluarga atau ketua lingkungan.

LAGU PEMBUKAAN
Lagu pembukaan yang sesuai Misalnya PS 498

† Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U Amin.
P Rahmat dan damai sejahtera dari Allah turun atas rumah ini dan atas kita semua yang berkumpul demi nama-Nya.
U Sekarang dan selama-lamanya.

TEMA
Pemimpin ibadat menjelaskan tema dan maksud ibadat ini, Sebagai contoh seperti berikut:

P Malam ini adalah malam suci bagi kita semua. Lebih-lebih bagi calon pengantin, khususnya bagi Sigit dan Sari yang besok pagi akan saling menerimakan sakramen perkawinan. Pada malam ini kita mohon berkat Tuhan, mohon doa restu dari para malaikat, kepada para leluhur dan juga mohon restu kepada orang tua ke-dua mempelai.
Agar ibadat kita diterima Tuhan marilah kita memeriksa batin dan mengakui dengan rendah hati segala kekurangan, kesalahan dan dosa-dosa kita.

Hening sejenak
P/U Saya mengaku ……….



Tuhan Kasihanilah Kami (di daras atau dilagukan)
P Semoga Allah Yang Maha Kuasa mengasihi kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
U Amin.

DOA PEMBUKAAN
Kalau buku panduan cukup, Doa Pembukaan dianjurkan didoakan bersama, bila tidak, cukup oleh pemimpin ibadat.

P/U Allah Yang Maha Pengasih, sumber cinta sejati dan sumber kebahagiaan keluarga, kami bersyukur atas cinta yang telah Engkau tumbuhkan dalam hati ke-dua mempalai. Sudilah Engkau hadir bersama para kudus dan para malaikat Surga untuk memberkati saudara kami Cornelia Septihapsari, Dengan Yohanes Baptis Sigit Maryanto, sebagaimana dulu Engkau datang dan memberkati pengantin di Kana lewat Tuhan Kami Yesus Kristus. Dialah Tuhan pengantara kami yang bersama de ngan Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

LITURGI SABDA

Bacaan I
(dibacakan oleh salah satu dari mempelai atau salah satu dari hadirin). Alternatif bacaan : Tobit “Perkawinan Tobia dan Sara”, atau dari kutipan berikut :
Rm. 12:1-2.9-18; 1 Kor. 12 31-13:8; Kol. 3:12-17.

Pembacaan dari Kitab Tobit tentang perkawinan Tobia dan Sara

Tobit dan hana istrinya, serta Tobia , anak tunggal mereka, ikut tertawan dibawa ke babel. Di sana Tobit banyak mendapat cobaan: sakit, matanya buta dan hidup serba kekurangan. Hana yang tidak biasa hidup berat mengeluh.
Tobia susah sekali, lalu memanggil Tobia anaknya, dan diberitahu, sesungguhnya aku masih mempunyai harta banyak, saya titipkan pada Gabael, saudaraku, di tanah Media. Maka pergilah ke sana dan mintalah harta itu.
Tobia berangkat dihantar oleh Malaikat Rafael, yang menampakkan diri sebagai seorang pemuda bernama Azarya. Ketika menyeberangi sungai Tigris, Tobia menangkap ikan besar. Ikan itu ajaib dan berkhasiat: empedunya bisa digunakan sebagai obat, dan hatinya dapat digunakan sebagai pengusir setan. Atas nasehat Azarya,Tobia menyimpan empedu dan hati ikan itu.
Perjalanan mereka sudah masuk wilayah Media mendekati kota Ekbatana. Di situ ada keluarga terhormat masih keluarga Tobit, namanya Raguel. Raguel mempunyai anak perempuan tunggal, namanya Sara. Dia gadis yang rupawan, cerdas dan menjadi buah bibir kaum muda di kotanya.
Sara sudah pernah diperistrikan oleh tujuh laki-laki, tetapi semuanya mati pada malam pertamanya, karena Sara dikuasai oleh Asmodeus, setan penghancur. Ketujuh laki-laki itu mati dibunuh Asmodeus ketika mau menghampiri Sara.
Azarya membujuk Tobia supaya meminang Sara, tetapi Tobia takut kalau mengalami nasip seperti ketujuh laki-laki yang memperistri Sara sebelumnya. Tetapi Azarya berkata “jangan takut ! Sebelum pergi tidur, berdoalah bersama-sama dengan Sara, bakarlah hati ikan yang kamu bawa itu, maka setan Asmodeus akan enyah darinya.” Maka Tobia meminang Sara dan Raguel-pun me restuinya.
Malam itu sebelum pergi tidur, Tobit membakar hati ikan dan berdoa bersama Sara, setan Asmodeus ketakutan, lalu melarikan diri ketanah gersang di kawasan mesir, malaikat Rafael mengejar dan membelenggunya.
Keesokan harinya Tobia dan Sara didapati selamat. Orang tua Sara sangat berbahagia, lalu mengadakan perjamuan besar. Gabael dan Raguel-pun diundang, sekaligus membawa harta Tobit untuk diserahkan kepada Tobia.

L Demikianlah Sabda Tuhan
U Syukur Kepada Allah


Mazmur Tanggapan (atau Lagu antar bacaan)

Reff: Berbahagialah yang mendiami Rumah Tuhan

Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan,
Yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.
Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu,
Berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu.

Istrimu akan menjadi laksana pohon anggur subur
Yang ada di dalam rumahmu
Anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun
Di sekeliling mejamu.

Sunguh demikianlah akan diberkati Tuhan,
Orang laki-laki yang takwa hidupya.
Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion
Boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu.

BACAAN INJIL (Alternatif Bacaan: Yoh. 2:1-11; Mat 5 :13-36;
Yoh. 15:9-12)

P Tuhan Sertamu
U Dan sertamu juga
P Inilah Injil Yesus Kristus Menurut Santo Yohanes
Yoh. 2:1-11
……………………
P Berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan, dan tekun melaksanakanya. (3 5 6..6 5 67 6 …)
U Sabdamu adalah jalan, kebenran dan hidup kami
(3 5 6 6 56 7 6)
P Demikianlah Sabda Tuhan
U Terpujialh Kristus

HOMILI
Bila dikehendaki ada CATUR WEDA maka sebelum homili didahului dengan Catur Weda. Kalau ada acara pelepasan masa lajang dan suapan terakhir bisa ditempatkan setelah Homili.
SYAHADAT PARA RASUL

PEMBERKATAN MEMPELAI
Mempelai didampingi orang tua mempelai mempersiapkan diri. Pemberkatan diawali dengan Litani Para Kudus.

LITANI PARA KUDUS

Tuhan Kasihanilah kami ( 1 6 66 66 65 60 )
Tuhan Kasihanilah kami
Kristus Kasihanilah kami
Kristus Kasihanilah kami
Tuhan Kasihanilah kami
Tuhan Kasihanilah kami

Santa Maria, Bunda Alah (1 2 7) Doakanlah kami (77 6 711)
Santo Mikael, Gabriel dan Rafael
Para Malaikat Alah yang kudus
Santo Yosef
Santo Yohanes Pembaptis
Santo Petrus dan Paulus
Santo Andreas
Santo Yohanes
Santa Maria Magdalena
Santo Stefanus
Santo Laurentius
Santo Ignatius dari Antiokia
Santa Agnes
Santa Perpetua dan Felicitas
Santo Gregorius
Santo Agustinus
Santo Atanasius
Santo Basilius
Santo Martinus
Santo Benediktus
Santo Fransiskus dan Dominikus
Santo Franciscus Xaverius
Santo Yohanes Maria Vianney
Santa Theresia
Santa Catarina dari Siena
Santo Paulus dan Santa Maria
Santo …. (Nama pelindung mempelai pria, bila belum disebut)
Santa ( Cornelia)( Nama pelindung mempelai wanita, bila belum disebut)
Semua orang kudus

Kristus dengarkanlah kami
Kristus dengarkanlah kami
Kristus kabulkanlah doa kami
Kristus kabulkanlah doa kami

DOA BERKAT

P Saudara terkasih, marilah kita mohon berkat bagi calon pengantin supaya Allah Yang Maha pengasih memberi berkat kepadanya.
P Ya Bapa Yang Maha Baik, atas kerahiman-Mu keduanya Kau angkat menjadi mitra-Mu dalam melangsungkan karya-Mu, mencipta, melindungi, memelihara, mendidik dan membina manusia baru dalam satu ikatan keluarga.
U Amin
P Panggilan hidup keluarga merupakan tugas mulia, namun kami yakin, ya Tuhan bahwa Engkau pasti berkenan memberi berkat dan karunia yang melimpah supaya mereka dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
U Amin
P Engkau selalu menjaga hidup anak-Mu, maka agar mereka dapat mengalahkan dan menundukkan kecenderungan percekcokan dan pertengkaran, dengki, iri hati, percabulan dan egoisme, malas dan pemborosan , dusta dan penipuan, ketidak adilan dan ketidak-jujuran, semua sifat yang merusak kebahagiaan. Maka dari itu, dengan rendah hati kami mohon berkatilah ……. yang akan menerima sakramen Pernikahan … (Hari tanggal : besok Sabtu) agar dapat setia memenuhi panggilan-Mu
U Amin
P Pertolongan kita pada nama Tuhan
U Yang menciptakan langit dan bumi
P Tuhan kabulkanlah doaku
U Dan seruanku sampaikanlah di hadapan-Mu

DOA ORANG TUA MEMPELAI
Orang tua mempelai menumpangkan tangan pada bahu mempelai

OT Ya Allah Bapa Yang Maha Pengasih, Engkau Maha Bijaksana dan Maha Kuasa. Kami sebagai orang tua, saat ini dimalam midodareni ini kami mohon berkat-Mu untuk anak-anak kami yang akan membentuk keluarga baru, yakni Tanti dan Bosco boleh menjalani Sakramen Perkawinan.
Tolong dan bantulah mereka, agar didalam membangun keluarga yang baru ini, Engkau selalu hadir dan campur tangan-Mu atas keluarga mereka dapat menjadi keluarga yang bahagia, keluarga kristiani yang sejati, keluarga yang hidup bukan hanya dirinya sendiri, tetapi sebagai keluarga ditengah masyarakatnya, sehingga dengan keluarganya, Gereja hadir secara nyata. Semoga kerukunan selalu ada dalam keluarganya, rejeki yang cukup untuk kesejahteraan keluarganya, jauhkanlah mereka dari cobaan dan godaan yang akan meruntuhkan bangunan keluarga yang dibentuknya.

(Tangan orang tua dilepaskan dari bahu mempelai)

Bantulah kami selama menyongsong peristiwa penting ini, restuilah kami selama masa persiapan ini, berkatilah kami semua yang ikut ambil bagian dalam melaksanakan perhelatan ini. Semoga kami semua berkerja sama dengan baik, dan ambil bagian secara aktif demi keberhasilan perayaan nanti.
Semoga kebersamaan dalam menyiapkan dan melaksanakan peristiwa penting ini semakin meningkatkan persekutuan kasih antar kami.
U Amin
BERKAT DAN PERECIKAN
Prodiakon berdoa sambil mengangkat tangan bagi mempelai.

P Marilah berdoa
Allah yang Maha Pengasih, kami tahu bahwa hidup keluarga itu adalah panggilan yang luhur dan terhormat, karena melalui perkawinan, Engkau angkat mereka menjadi rekan kerja dalam penciptaan manusia baru dan mengasuhnya dengan penuh kasih. Kami mohon sudilah memberkati mempelai ini. Semoga kelak menjadi Bapak dan Ibu yang baik bagi keluarga dan anak-anak mereka. Semoga mereka saling memahami satu sama lain dalam membangun keluarga Katolik sejati.
Semoga para kudus merestui mereka dalam membangun keluarga, dan para malaikat agung mendampingi dan menjaga langkah mereka agar terbebas dari segala cobaan yang merong-rong keluarga mereka.
Berkatilah mempelai ini sehingga boleh meneladani keluarga Nasaret, yakni ST. Yosef dan Maria yang menghantarkan keselamatan bagi keluarga dan sesamanya demi Kristus Tuhan dan pengantara kami

U Amin
kemudian prodiakon mereciki mempelai dengan air suci

BAPA KAMI

P Saudara-sudari terkasih marilah kita menyatukan dan menyempurnakan doa-doa kita ini dengan doa yang diajarkan Tuhan kita Yesus Kristus.
P/U Bapa Kami …..
P Ya Bapa selalu jadilah kehendak-Mu, sebab itulah satu-satunya pedoman hidup kami. Semoga kami tak henti-hentinya berusaha supaya kehendakmu benar-benar terlaksana di-dalam diri kami sendiri, di dalam keluarga dan lingkungan hidup kami, sementara kami menantikan dengan rindu kedatangan penyelamat kami, Yesus Kristus.
U Sebab Engkaulah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya.

Doa Penutup (Spontan)

PENGUMUMAN
Hendaknya pengumuman ditempatkan sebelum berkat pengutusan.


BERKAT PENGUTUSAN
Bila disediakan hidangan/makan sekaligus doa makan

P Tuhan sertamu
U Dan sertamu juga
P Semoga berkat Allah Yang Maha Kuasa selalu menerangi hidup kita.
V Dalam Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.
U Amin.
P Dengan demikian Ibadat kita dalam rangka Midodareni sudah selesai
U Syukur kepada Allah
P Marilah kita pergi untuk diutus
A Amin.

LAGU PENGUTUSAN (Misal PS. 620)

Selamat Datang

Mari kita merenung dalam masa seperti saat ini

RUANG KATEKESE

RUANG KATEKESE
KLIK PADA GAMBAR